Sepuluh hal yang memberatkan hukuman Antasari mengada-ada

9 Februari 2010

Pada hari Selasa, 19 Januari 2010, diadakan sidang penuntutan terhadap terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa otak pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Antasari Azhar, dengan hukuman mati. Dalam sidang itu jaksa menyebutkan 10 hal yang memberatkan hukuman Antasari, yaitu:

  1. Terdakwa mempersulit persidangan.
  2. Terdakwa membuat gaduh.
  3. Terdakwa melakukan perbuatan secara bersama-sama, terorganisir untuk membunuh korban Nasrudin Zulkarnaen.
  4. Terdakwa telah berusaha menggiring perbuatannya adalah suatu rekayasa atau konspirasi untuk mempengaruhi dan mengelabui publik atau pers dengan maksud agar citra penegak hukum di mata masyarakat menjadi rusak.
  5. Terdakwa telah bersama-sama oknum menengah Polri dan pengusaha pers melakukan perbuatan pidana.
  6. Perbuatan terdakwa telah menurunkan citra dan mempermalukan penegak hukum.
  7. Terdakwa tidak memberikan contoh yang baik pada penegak hukum.
  8. Korban adalah pejabat BUMN.
  9. Terdakwa telah menghilangkan kebahagiaan keluarga istri dan anak-anak korban.
  10. Terdakwa telah mengakibatkan penderitaan lahir batin keluarga, istri dan anak-anak korban.
  11. “Hal-hal yang meringankan, selama persidangan tidak ditemukan hal-hal yang meringankan,” ujar JPU.

Apa yang Anda pikirkan ketika membaca sepuluh hal di atas. Saya tertawa saat pertama kali membaca 10 hal itu. Bukan berarti saya berpendapat bahwa 10 hal itu tidak memberatkan, yang tidak logis adalah 10 hal itu yang membuat Antasari dihukum mati. Berlebihan kalau Antasari dihukum mati karena 10 hal di atas seakan-akan ada 10 kesalahan besar yang dilakukan Antasari. Padahal tidak sampai ada 10 kejahatan yang membuat Antasari pantas dihukum mati karena menurutku kesalahan besar yang tertulis di situ hanya dua, yang lainnya hanya sebagai pelengkap yang terjadi karena satu hal itu. Selain itu, beberapa hal di atas merupakan opini dari jaksa. Jadi, penulisan 10 hal yang memberatkan hanya bertujuan untuk memunculkan citra bahwa kesalahan Antasari sangat besar. Mari kita bahas satu per satu. Baca entri selengkapnya »


Menyikapi Perempuan yang Pulang Malam

20 Januari 2010

Sebelumnya saya telah membahas bahwa perempuan diharapkan tidak pulang malam. Akan tetapi, bagaimana dengan perempuan yang harus mengikuti kegiatan akademik hingga malam hari sehingga baru bisa pulang ketika sudah malam? Jika upaya menghindari pulang malam sudah tak bisa dilakukan lagi, kita tetap berusaha mengondisikan agar perempuan bisa pulang dengan aman dan terhindar dari fitnah. Bagi perempuan, adab-adab yang perlu dilakukan ketika keluar rumah adalah* :

  1. Keluarnya untuk suatu keperluan yang mendesak
  2. Harus dengan izin walinya (Orang tua atau suaminya)
  3. Harus memakai hijab yang syar’i
  4. Tidak boleh memakai wangi-wangian
  5. Hendaknya dengan mahromnya atau dengan wanita yang lain dan jangan berdua-duan dengan seorang laki-laki yang asing

Perempuan yang baru pulang pada malam hari juga perlu menerapkan adab-adab di atas. Namun ada beberapa adab di atas yang sulit diterapkan oleh perempuan yang tinggal di tempat kos. Ada juga perempuan yang tidak bisa pulang bersama dengan teman perempuan lainnya karena berbeda arah pulang. Lalu bagaimana sebaiknya dia pulang?

Cara yang syar’i

Untuk kasus pulang malam, aku tidak tahu apakah menurut Islam sebaiknya perempuan hanya pulang bersama-sama dengan perempuan lainnya atau perlu ditemani oleh lelaki untuk menjaga mereka. Aku sendiri merasa tak tega membiarkan perempuan pulang malam tanpa ada lelaki yang menjaganya.

Perempuan sebaiknya ditemani oleh mahromnya, tetapi jika dia tinggal di tempat kos yang jauh dari mahromnya saranku sebaiknya bersegara untuk menikah agar nanti ada yang menemaninya terutama jika dia harus pulang malam. Namun sepertinya cara ini berat untuk dilaksanakan. Cara lain untuk kasus seorang perempuan yang baru pulang pada malam hari tanpa ada mahromnya adalah ada lelaki bersama mahromnya atau istrinya yang menjemput perempuan itu dan mengantarnya hingga ke rumah atau tempat kos. Namun lelaki bersama mahromnya yang bisa dan mau mengantarkan pulang sulit didapatkan. Lalu bagaimana yang perlu dilakukan oleh seorang perempuan yang baru bisa pulang pada malam hari dan di sana hanya ada laki-laki yang bukan mahromnya yang sama-sama baru selesai dari aktivitasnya (misalnya praktikum atau ujian) jika cara-cara di atas tidak bisa dilakukan? Kejadian ini sering dialami oleh mahasiswi.

Cara lain

Beberapa metode yang mungkin dilakukan adalah pulang sendiri, pulang bersama atau diantar oleh seorang lelaki, atau diantar oleh banyak laki-laki. Cara yang bisa dilakukan adalah jalan kaki, naik motor, atau naik mobil. Manakah yang lebih baik untuk dipilih? Dan bagaimana posisi lelaki terhadap perempuan saat mengantarkan pulang? Baca entri selengkapnya »


Bolehkah perempuan pulang malam?

24 Desember 2009

Pertanyaan ini telah menimbulkan perdebatan di kalangan mahasiswa. Perempuan yang sering pulang malam beralasan bahwa mereka sedang beraktivitas di unit, himpunan, atau kegiatan kemahasiswaan lainnya. Sebagian dari mereka melakukannya dengan alasan untuk berda’wah. Ada pula yang melakukannya karena ingin mengikuti/menonton acara tertentu yang diadakan pada malam hari. Sebenarnya bagaimana aturan tentang hal ini?

Untuk masalah ini aku lebih suka menggunakan aturan yang berlaku di masyarakat. Menurutku aturan ini lebih mudah diterima. Orang tua yang mempunyai anak perempuan akan merasa cemas jika anaknya masih belum pulang hingga larut malam. Bahkan mungkin mereka melarang anak-anak perempuannya untuk mengikuti kegiatan hingga malam hari karena khawatir terjadi masalah ketika perjalanan pulang. Ada yang menerapkan jam malam sehingga si anak harus sudah berada di rumah ketika sudah melewati jam tertentu. Aturan jam malam ini sering dijadikan alasan oleh para mahasiswi untuk meminta izin meninggalkan aktivitas kampusnya yang dilakukan pada malam hari. Namun bagaimana dengan para mahasiswi yang tinggal di tempat kos yang tidak ada batasan mau pulang jam berapapun? Apakah mereka boleh mengikuti kegiatan hingga tengah malam? Mereka tidak bisa menggunakan alasan jam malam untuk pulang. Lalu dengan alasan apa agar mereka dibolehkan untuk pulang?

Kita kembali pada aturan yang berlaku di masyarakat. Pandangan masyarakat sudah negatif pada perempuan yang masih berkeliaran/keluyuran di malam hari. Orang tua pun khawatir terhadap anak-anak perempuannya yang masih berada di luar rumah pada malam hari. Dan menurutku hal ini bisa dijadikan alasan bagi perempuan untuk tidak pulang malam. Mereka bisa berkata kepada teman-temannya yang mengajaknya mengikuti acara malam, “maaf, perempuan itu tidak baik pulang malam.”

Bagaimana penilaian Islam terhadap hal ini?

Setahuku tidak ada aturan Islam yang secara khusus mengatur tentang perempuan yang pulang malam, tetapi aturan Islam lebih keras daripada membiarkan perempuan pulang malam sendiri. Perhatikanlah QS. Al-Ahzab ayat 33 berikut ini!

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahuludan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Maksud ayat di atas adalah perintah kepada wanita untuk tetap tinggal di dalam rumah. Walaupun perintah ini ditujukan kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tapi juga mencakup kaum wanita secara umum selain mereka dan meskipun tidak ada dalil yang secara khusus memerintahkan semua wanita untuk tinggal di rumah, tapi syariat Islam menegaskan akan pentingnya kaum wanita untuk tetap tinggal di rumah dan melarang mereka untuk keluar rumah kecuali jika ada kepentingan mendesak.” (Tafsir Al-Qurthubi: 14/179)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wanita itu aurat, maka jika dia keluar rumah maka setanlah yang akan membimbingnya.” (HR. At-Turmudzi no. 1093 dan dishahihkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Irwaul Ghalil no. 273) Silakan baca penjelasan selengkapnya di sini atau baca juga yang ini.

Jadi, hukum asal bagi kaum perempuan adalah tinggal di rumah, sedangkan keluarnya perempuan dari rumah itu adalah rukhshoh yang dibatasi dengan aturan syariat. Aturan ini lebih keras daripada larangan bagi perempuan beraktivitas pada malam hari di luar rumah. Sebenarnya aku masih bingung cara menerapkan aturan ini pada masa sekarang, terutama di kalangan mahasiswi, tetapi yang perlu ditekankan di sini adalah perempuan sebaiknya memilih untuk tinggal di rumah. Perempuan boleh keluar rumah jika ada keperluan tetapi dengan menerapkan adab-adabnya untuk menghindari fitnah yang bisa muncul. Dan pada malam hari fitnahnya lebih besar daripada siang hari. Oleh sebab itu aktivitas di luar rumah pada malam hari bagi perempuan sebaiknya dihindari. Dan yang paling dikhawatirkan adalah saat perjalanan pulang.

Dengan memperhatikan aturan Islam dan penilaian masyarakat terhadap perempuan yang pulang malam, saya menyarankan kepada kaum perempuan berupaya untuk bersegera pulang ke rumah atau ke tempat kosnya sebelum malam tiba, dan sebisa mungkin tidak mengikuti acara yang diadakan pada malam hari di luar rumah jika acara itu tidak memberikan banyak manfaat, apalagi hanya sekadar mencari kesenangan. Dan jangan sampai niat mereka untuk berda’wah justru malah menimbulkan citra negatif dari masyarakat. Dan kepada pengurus organisasi atau unit, jangan melarang perempuan untuk pulang jika sudah menjelang malam!


Ketidakenakkan Mengobrol dengan Perempuan

21 Agustus 2009

Beberapa pekan yang lalu aku mengobrol dengan seorang perempuan. Aku baru bertemu dengan perempuan itu pertama kali. Dia adalah adalah teman dari temanku. Aku mengetahui nama panggilannya saat dia menuliskan komentar di blog temanku. Aku ingin berkenalan dan mengobrol dengannya karena komentarnya di blog temanku membuatku penasaran. Dan keinginanku untuk mengobrol dengannya akhirnya terlaksana juga. Di sini aku tidak bermaksud menulis isi yang diobrolkannya, tetapi aku ingin menjelaskan bagaimana kami mengobrol.

Sebelum kami mengobrol, perlu ditentukan dulu tempat ngobrolnya. Dia bertanya kepadaku, “mau ngobrol di mana?” “Di sini saja”, aku menunjuk tempat yang dekat dengan temanku, di daerah hot spot internet. “Tapi di sini kursinya gak enak”, katanya. “Ga pa pa” jawabku. Kursi itu tidak bisa diatur saling berhadapan. Lalu kami berkenalan dan kujelaskan latar belakang yang membuatku ingin mengobrol dengannya. Obrolan pun dimulai. Setelah beberapa lama kami mengobrol, dia mengatakan kepadaku yang intinya banyak gangguan jika kami mengobrol di sini. Aku bertanya untuk memperjelas maksudnya, “Kamu merasa kita di sini mengganggu orang lain di sekitar kita atau kamu merasa terganggu karena banyak orang-orang di sini?” “Dua-duanya”, katanya. Aku bertanya kembali, “Kamu tahu gak alasanku tetap mengobrol di sini? Karena aku meyakini bahwa ada larangan mengobrol berdua dengan perempuan yang bukan mahrom di tempat sepi. Dan aku memang merasa tidak nyaman ketika mengobrol berdua dengan perempuan tanpa ada yang menemani. Tetapi kalau memang ada tempat yang lebih baik daripada ini ya terserah sih. Gimana?” “Terserah”, katanya. Karena aku tak punya alternatif tempat, aku tetap menggunakan tempat ini untuk mengobrol. Maka kami tetap melanjutkan obrolan kami di tempat yang sama.

Ada beberapa poin yang ingin kutanyakan tentang dirinya. Dan semuanya sudah dijawab olehnya. Setelah itu aku bingung mau membahas apa lagi, maka aku cenderung diam. Sebenarnya tidak ada lagi yang ingin kutanyakan kepadanya. Kalau mau diakhiri juga boleh, tetapi kalau dia tidak mau mengakhiri aku masih bersedia melanjutkannya. Aku khawatir dia merasa tidak nyaman karena kuajak ngobrol tentang dirinya, maka aku menanyakan hal itu kepadanya. Dan dia ternyata merasa tidak keberatan. Obrolan kami selesai setelah dia bertemu temannya karena ada keperluan. Lalu kami berpamitan. Dia pergi meninggalkanku bersama temannya sementara aku tetap di situ.

Setelah kami berpisah, rasa tidak enak dalam diriku semakin kuat. Aku bukannya tidak enak ngobrol di sekitar orang-orang, tetapi aku merasa tidak enak dengannya yang telah kuajak ngobrol di tempat yang banyak orang. Dan yang diobrolkannya adalah tentang masalah pribadinya. Aku merasa tidak enak dengannya karena telah membahas masalah pribadinya yang bisa didengar oleh orang-orang di sekitarnya, tetapi jika aku pindah ke tempat yang tidak bisa didengar oleh orang lain malah jadi kholwat (berdua-duaan). Aku bingung, tidak punya solusi. Sebenarnya dia sempat memintaku agar temanku menemani kami ngobrol, tetapi yang ada di pikiranku saat itu adalah nanti takut ngerepotin. Padahal itulah seharusnya solusinya. Merepotkan orang lain merupakan konsekuensi yang harus dilakukan saat ngobrol pribadi dengan perempuan. Dan seharusnya temanku sudah paham tentang hal ini. Namun ‘pikiran jahatku’ membisiki aku agar aku jangan merepotkan temanku.

Rasa tidak enak ini semakin diperkuat dengan fakta bahwa kami mengobrol di sekitar orang-orang yang sedang ngenet. Mereka tidak berbicara karena fokus pada laptopnya masing-masing, maka mau tidak mau pasti mereka mendengar obrolan kami. Orang-orang yang tidak ingin mendengar obrolan kami akan merasa terganggu oleh kami karena mereka dipaksa mendengar obrolan kami. Ini juga berarti bahwa aku telah memaksa dia agar perkataannya bisa didengar oleh orang-orang, bagaikan jumpa pers, padahal yang dibahas adalah masalah pribadinya.

Sekitar dua pekan setelah kami ngobrol, aku bertanya kepada temanku yang mendengar obrolan kami apakah ada yang salah denganku pada cara kami ngobrol. Mengobrol dengan perempuan memang tidak boleh berduaan, harus ada orang ketiga yang menemani, di tempat ramai juga bisa, tetapi jangan sampai membuat dia malu dan mengganggu orang-orang yang tidak berkepentingan. Dan akhirnya aku mengakui bahwa aku memang telah melakukan kesalahan. Sepertinya aku perlu meminta maaf kepadanya.


Berjuanglah kawan! Harapan itu masih ada

11 Agustus 2009

Ahad, 19 Juli 2009, setelah aku bangun dari tidurku, aku merasa tidak tenang untuk tetap berada di kasurku. Aku masih bertanya-tanya apakah engkau yang dimaksud. Seandainya itu benar, aku khawatir apa yang sedang terjadi padamu. Jika engkau ingin tahu urutan kejadian hingga aku mengetahui keterlibatanmu, silakan baca di sini. Setelah itu aku langsung pergi ke Salman dan mencari orang-orang yang mengenalmu yang tahu keadaanmu, tetapi mereka tidak kutemukan. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi tempat kosmu. Jika aku mau bertanya langsung kepadamu, aku tidak ingin berbicara melalui telepon, aku ingin bertemu langsung denganmu agar aku bisa mengetahui keadaanmu. Sampai di dekat tempat kosmu, aku masih ragu untuk menanyakan hal itu. Aku berdoa kepada Allah agar aku bisa menjaga perkataanku, tidak membuatmu semakin sedih. Lalu aku meneleponmu dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu denganmu. Aku tak berani bertanya langsung tentang kasus itu. Aku hanya menanyakan kabar terbarumu. Engkau pun mengetahui apa yang kumaksud. Dan engkau pun mengakui bahwa engkau memang melakukan perbuatan itu. Ternyata memang engkaulah orangnya. Dan engkau pun telah mengetahui bahwa mereka yang menjadi joki diusulkan untuk di-DO, termasuk dirimu. Aku ingin mengeluarkan air mataku tetapi tak bisa, mungkin hubungan kita tidak terlalu dekat sehingga kesedihanku belum cukup kuat untuk membuat air mataku keluar. Maafkan aku kawan. Aku tidak rela melanjutkan pembicaraan karena khawatir malah membuatmu sedih, tetapi ternyata engkau cukup tegar dalam menghadapi kenyataan ini.

Karena engkau bersedia melanjutkan obrolan ini, aku pun mau melanjutkannya, tetapi aku tidak ingin menjelaskan kesalahanmu karena kurasa kau sudah mengetahuinya. Lagipula peristiwa itu telah terjadi, kita sudah tak bisa mengubah masa lalu. Akan tetapi, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa ada hal lain yang menyebabkan engkau melakukan perbuatan itu, tetapi sebenarnya itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah apa yang akan engkau lakukan setelah ini. Tujuan utamaku bertemu denganmu adalah mengarahkanmu agar engkau bisa berpikir lebih tenang. Sesuai dengan rencanaku, untuk bisa membantu mengarahkan masa depanmu, yang pertama kali kutanyakan adalah cita-citamu. Kasus ini memang telah menjadikan cita-citamu berantakan. Keinginanmu untuk melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri terhambat jika engkau harus di-DO dari ITB. Namun ini adalah fakta yang sulit kautolak. Engkau telah mengakui bahwa engkau memang salah, tetapi engkau sudah berani mengambil risiko itu. Pelanggaran yang kaulakukan cukup berat, engkau telah dianggap mencemarkan nama baik ITB. Menurutku tak ada lagi yang bisa diperjuangkan agar engkau bisa tetap kuliah di ITB. Bahkan seandainya jika aku menjadi Rektor, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Rektor saat ini walaupun hal itu terasa berat bagiku. Aku adalah orang idealis yang berusaha menjalankan idealismeku walaupun itu berat. Namun, aku tak berani mengatakannya kepadamu karena kutahu DO terlalu berat bagimu, tetapi itu adalah risiko yang harus kaujalani. Aku tidak melarangmu berupaya agar tidak di-DO tetapi aku tak bisa membantumu karena tidak sesuai dengan idealismeku. Yang bisa kulakukan untukmu adalah membantumu agar engkau bisa melanjutkan kuliahmu di tempat lain.

Yang paling aku khawatirkan terhadap dirimu adalah kesiapanmu dalam menerima risiko itu. Engkau mungkin stress menghadapi kenyataan ini. Engkau harus menanggung malu karena perbuatan yang telah kaulakukan, engkau pun harus menghadapi ancaman DO, tetapi engkau harus tenang. Dan aku ingin membantumu agar engkau bisa memikirkan masa depanmu dengan lebih jernih. Engkau masih punya harapan di masa depan. ITB bukanlah segala-galanya. Masih banyak jalan lain yang bisa engkau lalui. Lintang dalam film Laskar Pelangi merupakan seorang anak yang cerdas, tetapi ia harus menghadapi fakta bahwa ia tak bisa melanjutkan sekolah karena harus menghidupi adik-adiknya setelah ayahnya meninggal. Engkau telah kuliah di ITB, tetapi engkau harus menghadapi fakta bahwa engkau tidak bisa melanjutkan kuliah di ITB. Kisah Laskar Pelangi telah memberikan pelajaran bagiku. Silakan baca tulisanku di sini. Aku merasa kuliah merupakan beban yang harus kujalani, tetapi ternyata sampai dengan sekarang Allah Masih Mempertahankanku untuk bisa kuliah di ITB. Aku pernah disarankan oleh dosenku untuk keluar dari ITB jika aku memang merasa tidak nyaman. Dan ternyata engkaulah yang mengalami rasanya diancam untuk dikeluarkan dari ITB. Yang ingin kutekankan di sini adalah kita harus siap menerima takdir yang Ditentukan oleh Allah. Allah telah Menakdirkanmu melakukan perbuatan itu. Mungkin itu adalah cobaan bagimu. Lalu apa yang akan engkau lakukan dalam menghadapi hal itu? Apakah engkau akan menambah kesalahanmu dengan kesalahan-kesalahan lain? Ataukah engkau akan bertobat dan melakukan kebaikan-kebaikan untuk menghapuskan kesalahanmu? Menghadapi fakta memang tidak semudah teorinya. Sesungguhnya setiap manusia tidak akan terlepas dari kesalahannya. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertobat. (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Sekarang engkau telah dikeluarkan dari ITB, tetapi banyak hal yang masih bisa kaulakukan untuk mewujudkan cita-citamu. Impossible is nothing. Kita Diperintahkan untuk berusaha semaksimal mungkin tetapi hasilnya serahkan kepada Allah. Dan jangan lupa berdoa. Banyak orang yang di-DO dari kampusnya, tetapi di antara mereka ada yang sukses menjalani kehidupannya. Mereka di-DO memang bukan karena melakukan pelanggaran, tidak sepertimu. Engkau memang telah melakukan pelanggaran, dan engkau harus mengalami rasa malu akibat perbuatanmu itu. Bersyukurlah engkau masih memiliki rasa malu dalam melakukan keburukan. Semoga Allah tetap Mempertahankan rasa malu itu karena malu juga merupakan bagian dari iman. Dan yakinlah bahwa Allah Melihat segala perbuatan kita. Akan tetapi, janganlah engkau terlalu mendramatisasi akibat dari perbuatan yang telah kaulakukan. Itu adalah masa lalu. Engkau masih punya harapan di masa depan. Tekanan atau ancaman bisa membuat seseorang bangkit, maka jadikanlah peristiwa ini sebagai faktor yang membuatmu lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Nilai akademikmu yang tinggi berpeluang besar untuk bisa membuatmu sukses kuliah di tempat lain dan mewujudkan cita-citamu. Aku senang ketika kamu berkata “mungkin ini adalah awal dari kehidupanku yang sebenarnya”. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kehidupanmu belum berakhir dan engkau merasa masih punya harapan besar di masa depan. Selamat berjuang dalam meraih kesuksesan!


Teman kita di-DO!

2 Agustus 2009

Anda suka membaca/mendengarkan berita? Anda mendengar berita tentang kasus perjokian di Makassar? Silakan baca di sini untuk lebih jelasnya. Setelah membaca berita tentang hal itu, apa pendapat Anda? Apakah Anda puas jika para joki itu di-DO dari kampusnya? Ataukah Anda tidak peduli terhadap kasus semacam ini? Menurutku wajar jika Anda bersikap seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika yang di-DO itu adalah teman dekat Anda yang sangat Anda kenal?

Pertama kali aku mendengar kasus perjokian ini pada hari Sabtu, 18 Juli 2009. Aku mendengarnya dari orang tua temanku yang sedang diwisuda. Orang tuanya mendengar dari dosen pada acara ramah tamah yang diadakan oleh Fakultas sehari sebelumnya, bahwa ITB saat ini sedang berduka karena ada mahasiswanya yang terlibat kasus perjokian. Aku biasa saja mendengar hal itu.

Pada malam harinya aku bertemu dengan teman-teman yang menjadi pengurus kabinet KM ITB (Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) yang mau jalan-jalan. Aku mendengar obrolan mereka. Salah satu obrolannya adalah tentang perjokian. Presiden KM ITB menceritakan bahwa saat berada di Sabuga ia melobi rektor agar 11 mahasiswa yang terlibat dalam kasus perjokian tidak dikeluarkan (drop out) dari ITB tetapi diberi hukuman lain. Maka Rektor pun menjawab, “Orang yang seperti itu pantasnya di-DO, DO, DO, DO, DO!” Presiden KM pun terdiam mendengar Rektor berkata hal itu. Ia merasa sudah tidak ada harapan lagi bagi para mahasiswa tersebut untuk melanjutkan kuliah di ITB.

Menurutku orang yang menjadi joki memang layak di-DO. Mereka telah melakukan kecurangan akademik. Dan orang yang melakukan kecurangan sudah selayaknya mendapat hukuman. Besar kecilnya hukuman itu aku tidak terlalu mempedulikannya. Yang penting mereka harus dihukum sehingga tidak berani melakukan kecurangan itu lagi. Jika pihak ITB mau mengeluarkan mereka dari kampus ITB, silakan saja. Menurutku wajar pihak ITB menginginkan seperti itu karena perbuatan mereka dianggap telah mencemarkan nama baik ITB. Mungkin banyak juga orang-orang yang berpendapat seperti ini.

Setelah cukup lama mendengarkan obrolan teman-temanku itu, aku pun diajak untuk bepergian bersama mereka. Kami pergi ke Lembang dan berhenti di tempat makan lalu kami mengobrol di sana sambil memesan makanan. Aku memesan jagung bakar. Obrolan itu berlangsung santai. Ada bermacam-macam tema dalam obrolan kami, tetapi yang sangat kuingat adalah tentang perjokian. Sebenarnya tema ini biasa saja bagiku. Namun, ketika sebuah nama disebut dalam obrolan itu, aku pun menjadikan masalah ini sebagai masalah yang serius bagiku. Nama itu sangat kukenal, tetapi apakah orang itu yang dimaksud? Aku bertanya-tanya dalam hati. Baru dua hari yang lalu aku bertemu dengannya, dan katanya ia baru kembali ke Bandung setelah berada di Makassar selama 3 minggu. Setelah kembali ke mobil, aku memberi tahu hal itu kepada temanku yang semobil denganku. Temanku mengatakan bahwa kejadian itu memang berlangsung di Makassar. Aku merasa tidak percaya bahwa orang itu telah melakukan perbuatan itu. Ia terlalu polos menurutku. Mengapa ia mau melakukan hal itu? Aku berusaha untuk memercayai berita ini karena kebenaran informasinya cukup kuat, tetapi aku masih belum benar-benar percaya sebelum aku memastikannya. Malam itu aku menjadi tidak tenang, hawa dingin mulai terasa, tetapi aku harus mengendalikan pikiranku agar aku tidak sakit. Seandainya ia memang melakukan itu, yang paling kukhawatirkan adalah kemampuannya dalam mengendalikan dirinya karena jiwanya sedang tertekan. Aku tidak ingin ia sampai lepas kendali. Malam itu aku mulai menyusun rencana untuk memastikan kebenaran informasi itu dan memikirkan penanganan yang pas agar ia bisa menyikapi masalah itu dengan baik. Aku menceritakan informasi itu kepada teman dekatku.

Pada pagi harinya, setelah aku bangun dari tidurku, aku tidak sabar menunggu informasi datang kepadaku, aku harus mencarinya. Kalau perlu aku akan menemuinya, tetapi hal itu kuhindari karena aku khawatir malah membuatnya semakin stress. Aku pergi ke Salman dan berharap bisa bertemu dengan teman-temanku yang mengenalnya dan berencana menyusun rencana bersama-sama untuknya, tetapi ternyata rencanaku tidak berjalan. Aku tak bisa diam saja. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi tempat kosnya. Sampai di sekitar tempat kosnya aku berdoa kepada Allah agar aku bisa menjaga perkataanku, lalu aku meneleponnya dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Setelah bertemu, aku menanyakan kabar terbarunya. Dan akhirnya aku mendapat kepastian darinya bahwa ia memang melakukan perbuatan itu. Aku sempat bingung mau berkata apa. Ia bertanya tentang sikap Rektorat. Kujawab bahwa sulit mengubah keinginan rektorat selain DO. Aku tak berani mengungkapkan kata-kata yang diucapkan Rektor kepada Presiden KM. Kemudian aku mengarahkan pembicaraanku pada masa depannya dan memotivasi dirinya.

Sejak peristiwa itu aku mulai sibuk mencari informasi tentang perjokian di Makassar. Aku ingin tahu peristiwa yang terjadi dengan lebih jelas. Perhatianku terhadap kasus ini menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Aku mencoba bertanya kepada orang-orang dan mencari informasinya di media massa. Tulisan yang ku-posting sebelum ini merupakan hasil pencarianku untuk memperjelas peristiwa yang terjadi. Aku pun meminta para aktivis agar mengurusi mereka, tidak membiarkan mereka di-DO begitu saja, tetapi membantu mereka menentukan masa depan mereka.


Menjadi joki di-DO

2 Agustus 2009

Saat ini ITB sedang menangani mahasiswa yang terlibat kasus perjokian di Makassar. Tulisan di bawah ini kuambil dari Rileks (forum yang hanya dapat diakses di kampus ITB). Aku mengambil tulisan ini untuk memperjelas peristiwa yang terjadi karena aku mau mengomentari kasus ini pada tulisan-tulisanku selanjutnya.
Baca entri selengkapnya »


Wisudaan tanpa Arak-Arakan

25 Juli 2009

Sekitar satu pekan yang lalu, Sabtu, 18 Juli 2009, ITB mengadakan acara wisuda. Secara resmi, acara wisuda ITB diadakan oleh Rektorat di gedung Sabuga (Sasana Budaya Ganeha) yang merupakan gedung termegah di ITB. Umumnya mahasiswa hanya masuk ke dalamnya dua kali, yaitu saat penyambutan mereka dan saat mereka diwisuda. Acara wisuda di Sabuga merupakan acara formal, tetapi kata orang-orang tidak seru, bikin ngantuk. Dan biasanya himpunan mahasiswa di ITB mengadakan acara informal untuk menyambut para wisudawan setelah para wisudawan keluar dari Sabuga.

Seluruh himpunan mahasiswa di ITB mengadakan wisudaan yang di luar acara Rektorat karena keinginan mahasiswa sendiri. Wisudawan ingin mendapat hiburan setelah berusaha sekuat tenaga untuk bisa lulus dari ITB. Oleh sebab itu seluruh himpunan mahasiswa di ITB mengadakan acara yang lebih meriah daripada yang diadakan oleh Rektorat. Acara yang umumnya diadakan adalah arak-arakan keliling kampus. Orang-orang yang merupakan anggota himpunan mahasiswa yang memakai jaket himpunannya masing-masing mengarak (mengiringi) para wisudawan yang berasal dari himpunan mahasiswanya masing-masing. Mereka meneriakan yel-yel di tempat-tempat strategis ataupun ketika bertemu dengan himpunan mahasiswa yang lain. Beberapa himpunan memiliki arogansi yang tinggi sehingga apabila bertemu dengan himpunan lain mereka meneriakan yel-yel sekeras-kerasnya untuk menunjukkan ketinggian mereka, bahkan wisudaan yang diadakan pada tahun 90-an diwarnai dengan perkelahian antarhimpunan. Setelah para wisudawan diarak keliling kampus, mereka berhenti di tempat program studi mereka masing-masing dan melanjutkan acara di sana. Acaranya antara lain musik, sharing, atau renungan. Namun ada juga yang melakukan lempar-lemparan bom air atau cebur-ceburan. Itulah gambaran acara yang diadakan oleh himpunan.

Akan tetapi, wisudaan kali ini berbeda dengan wisudaan-wisudaan sebelumnya. Pada wisudaan kali ini Rektorat melarang himpunan mahasiswa melakukan arak-arakan, teriak-teriakan yel-yel, lempar-lemparan, cebur-ceburan, memakai atribut, bahkan melarang mengadakan acara di kampus pada hari wisuda. Ancaman bagi yang melanggarnya sangat besar, ketua program studi dari himpunan mahasiswa yang melakukannya bisa diturunkan dari jabatannya. Oleh sebab itu, banyak himpunan mahasiswa yang mengadakan acara untuk wisudawan sehari sebelum acara wisuda yang formal.

Pada saat hari-H (Sabtu, 18 Juli 2009) aku berencana pergi ke Sabuga pada siang hari untuk melihat suasana di luar Sabuga. Biasanya di sana ada kumpulan-kumpulan mahasiswa yang memakai jaket himpunannya masing-masing yang sedang menunggu wisudawan keluar dari Sabuga. Akan tetapi, karena aku diminta membantu temanku, aku tidak sempat datang ke sana. Aku baru bisa datang ke kampus jam 3 sore. Karena sebentar lagi Ashar, aku hanya sempat mendatangi tempat program studiku dan bertemu dengan teman-temanku sekalian menuju ke Salman. Kulihat kampus memang sepi. Memang ada mahasiswa yang berkumpul tetapi tidak terlihat sedang mengadakan acara.

Terkait dengan wisudaan kali ini, aku mendengar komentar dari teman-temanku. Banyak di antara mereka yang memberikan komentar yang intinya menyatakan bahwa wisudaan kali ini tidak seru. Aku jadi mempertanyakan, apa yang dimaksud ‘seru’ di sini. Aku merasakan dari komentar mereka bahwa dengan tidak adanya arak-arakan, adu yel-yel, lempar-lemparan bom air, cebur-ceburan, dan berbagai kekisruhan yang biasa terjadi pada wisudaan sebelumnya, membuat suasana menjadi tidak seru. Aku memang hanya mendengar komentar dari laki-laki, komentar dari perempuan tidak sampai ke telingaku. Aku pun berpikir karena merasa ada yang aneh. Dengan adanya suasana yang rusuh justru membuat acara menjadi lebih menarik, padahal kita menginginkan acaranya berlangsung aman dan damai. Mengapa dengan terwujudnya suasana yang aman dan damai justru kurang disukai oleh mahasiswa? Kita senang melihat beberapa himpunan yang arogansinya tinggi bertemu di satu tempat dan saling beradu, tetapi kita atau warga ITB tidak menginginkan perkelahian terjadi. Kita suka memancing himpunan lain agar tertantang untuk melawan himpunan kita, tetapi kita tidak ingin mempunyai musuh. Kita tidak ingin timbul permusuhan antara kita dengan teman-teman kita di himpunan lain tetapi kita suka membuat keributan. Jadi sebenarnya apa yang kita mau?


Aku ingin peduli

6 Maret 2009

Aku pernah membaca blog yang berisi tentang kepedulian. Apakah arti dari kepedulian? Jawaban dari pertanyaan itu sungguh merupakan sesuatu yang kupermasalahkan. Berdasarkan pendapat temanku di blog itu, peduli tidak hanya berupa rasa iba, tetapi merupakan suatu tindakan nyata yang kita lakukan untuk lingkungan. Lalu, apakah aku termasuk orang yang peduli?

Saat ini aku sudah sering mengalami perasaan-perasaan yang aku sendiri tak tahu sebab munculnya perasaan-perasaan itu, tetapi aku menerimanya karena memang itulah kenyataannya. Aku tak sadar perasaanku mulai tumbuh dalam diriku, yang sebelumnya aku kurang bisa memahami perasaan orang lain. Apalagi saat aku tingkat 3, aku ingin merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Ilmu yang kudapat kugunakan untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, dan dengan dasar itulah aku mencoba mencari tahu apa yang harus kulakukan dalam menghadapi lingkunganku. Ketidaksesuaian kenyataan dengan kebenaran yang kuyakini membuatku ingin mengubah kenyataan menjadi seperti yang kuyakini. Ketika aku sekolah, saat aku melihat orang miskin yang meminta-minta, timbul rasa iba dalam diriku untuk membantu mereka agar mereka bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, kusadari bahwa memberikan uang kepada mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka, mereka akan terus mengemis karena mereka menganggap hal itu sebagai pekerjaannya. Aku ingin mengubah pola pikir mereka. Aku telah tahu bahwa haram hukumnya menjadikan meminta-minta sebagai pekerjaannya. Akan tetapi, apa yang bisa kulakukan untuk mereka?

Ketika aku melihat temanku yang perempuan yang mempunyai sikap yang baik tetapi belum memakai jilbab, aku menginginkan dia untuk memakai jilbab. Contoh sikapku yang lain yang merupakan langkah nyata untuk menunjukkan kepedulian adalah sikapku dalam mengurusi sahabatku yang sedang mengalami keguncangan keyakinan, aku mencoba mengarahkannya agar ia bisa tetap berada pada jalan yang benar, saat itu aku sering mengobrol dengannya untuk membahas masalahnya.

Peristiwa yang terakhir yang cukup membuatku gelisah adalah ketika aku membaca sebuah cerita di dunia maya (internet) yang menjelaskan tentang pemerkosaan terhadap dirinya. Aku merasa kasihan kepadanya. Peristiwa yang menghilangkan keperawanannya telah terjadi, dan kita sudah tak bisa berbuat apa-apa karena peristiwa itu sudah berlalu, tetapi yang kukhawatirkan adalah apa yang akan dilakukan olehnya setelah dia mengalami peristiwa itu? Aku tidak ingin dia melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran. Cukuplah peristiwa itu membuat dirinya terbebani. Aku tidak ingin dia mengalami beban-beban berat berikutnya karena karena kesalahan sikap yang dilakukan olenya setelah itu. Aku ingin dia sadar, kembali ke jalan yang benar. Aku ingin memahamkan kepadanya bahwa menutup aurat adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga dirinya karena itu adalah tuntunan syari’at. Aku ingin memberi tahu kepadanya bahwa seorang wanita harus berhati-hati saat berinteraksi dengan laki-laki karena memang sudah tabi’at laki-laki bahwa ia akan tergoda ketika melihat wanita. Bahkan Rasulullah melarang kita untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Namun, itu semua sulit kulakukan karena aku tidak bisa berkomunikasi dengannya.

Wahai saudaraku, apakah kita akan membiarkan mereka berada dalam kesalahannya? Apa yang telah kita perbuat untuk mereka? Mungkin kita sudah berinteraksi dengan mereka selama bertahun-tahun. Di antara mereka ada langganan kita ketika kita makan, ada teman kuliah kita yang hampir setiap hari sekelas dengan kita, ada teman seorganisasi kita yang mungkin cukup dekat hubungannya dengan kita. Sudahkah kita mengajak mereka kepada kebenaran? Apakah kita sudah berusaha menyadarkan mereka agar mereka meninggalkan akhlak buruk yang mereka kerjakan? Apa yang telah kita perbuat untuk mereka setelah bertahun-tahun kita berinteraksi dengan mereka? Aku menanyakan hal-hal di atas bukan berarti aku menuntut orang-orang untuk melakukan langkah nyata, tetapi syukurlah jika itu bisa dilakukan. Sebenarnya aku sendiri juga bingung dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan di atas, aku juga membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Aku sendiri tak tahu apa yang mesti kulakukan. Bahkan perempuan-perempuan yang suka memakai celana pendek yang berada pada tempat yang hampir setiap hari kulewati, aku tak berbuat apa-apa untuk mereka, tetapi aku ingin mereka sadar.