Anda suka membaca/mendengarkan berita? Anda mendengar berita tentang kasus perjokian di Makassar? Silakan baca di sini untuk lebih jelasnya. Setelah membaca berita tentang hal itu, apa pendapat Anda? Apakah Anda puas jika para joki itu di-DO dari kampusnya? Ataukah Anda tidak peduli terhadap kasus semacam ini? Menurutku wajar jika Anda bersikap seperti itu. Akan tetapi, bagaimana jika yang di-DO itu adalah teman dekat Anda yang sangat Anda kenal?
Pertama kali aku mendengar kasus perjokian ini pada hari Sabtu, 18 Juli 2009. Aku mendengarnya dari orang tua temanku yang sedang diwisuda. Orang tuanya mendengar dari dosen pada acara ramah tamah yang diadakan oleh Fakultas sehari sebelumnya, bahwa ITB saat ini sedang berduka karena ada mahasiswanya yang terlibat kasus perjokian. Aku biasa saja mendengar hal itu.
Pada malam harinya aku bertemu dengan teman-teman yang menjadi pengurus kabinet KM ITB (Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) yang mau jalan-jalan. Aku mendengar obrolan mereka. Salah satu obrolannya adalah tentang perjokian. Presiden KM ITB menceritakan bahwa saat berada di Sabuga ia melobi rektor agar 11 mahasiswa yang terlibat dalam kasus perjokian tidak dikeluarkan (drop out) dari ITB tetapi diberi hukuman lain. Maka Rektor pun menjawab, “Orang yang seperti itu pantasnya di-DO, DO, DO, DO, DO!” Presiden KM pun terdiam mendengar Rektor berkata hal itu. Ia merasa sudah tidak ada harapan lagi bagi para mahasiswa tersebut untuk melanjutkan kuliah di ITB.
Menurutku orang yang menjadi joki memang layak di-DO. Mereka telah melakukan kecurangan akademik. Dan orang yang melakukan kecurangan sudah selayaknya mendapat hukuman. Besar kecilnya hukuman itu aku tidak terlalu mempedulikannya. Yang penting mereka harus dihukum sehingga tidak berani melakukan kecurangan itu lagi. Jika pihak ITB mau mengeluarkan mereka dari kampus ITB, silakan saja. Menurutku wajar pihak ITB menginginkan seperti itu karena perbuatan mereka dianggap telah mencemarkan nama baik ITB. Mungkin banyak juga orang-orang yang berpendapat seperti ini.
Setelah cukup lama mendengarkan obrolan teman-temanku itu, aku pun diajak untuk bepergian bersama mereka. Kami pergi ke Lembang dan berhenti di tempat makan lalu kami mengobrol di sana sambil memesan makanan. Aku memesan jagung bakar. Obrolan itu berlangsung santai. Ada bermacam-macam tema dalam obrolan kami, tetapi yang sangat kuingat adalah tentang perjokian. Sebenarnya tema ini biasa saja bagiku. Namun, ketika sebuah nama disebut dalam obrolan itu, aku pun menjadikan masalah ini sebagai masalah yang serius bagiku. Nama itu sangat kukenal, tetapi apakah orang itu yang dimaksud? Aku bertanya-tanya dalam hati. Baru dua hari yang lalu aku bertemu dengannya, dan katanya ia baru kembali ke Bandung setelah berada di Makassar selama 3 minggu. Setelah kembali ke mobil, aku memberi tahu hal itu kepada temanku yang semobil denganku. Temanku mengatakan bahwa kejadian itu memang berlangsung di Makassar. Aku merasa tidak percaya bahwa orang itu telah melakukan perbuatan itu. Ia terlalu polos menurutku. Mengapa ia mau melakukan hal itu? Aku berusaha untuk memercayai berita ini karena kebenaran informasinya cukup kuat, tetapi aku masih belum benar-benar percaya sebelum aku memastikannya. Malam itu aku menjadi tidak tenang, hawa dingin mulai terasa, tetapi aku harus mengendalikan pikiranku agar aku tidak sakit. Seandainya ia memang melakukan itu, yang paling kukhawatirkan adalah kemampuannya dalam mengendalikan dirinya karena jiwanya sedang tertekan. Aku tidak ingin ia sampai lepas kendali. Malam itu aku mulai menyusun rencana untuk memastikan kebenaran informasi itu dan memikirkan penanganan yang pas agar ia bisa menyikapi masalah itu dengan baik. Aku menceritakan informasi itu kepada teman dekatku.
Pada pagi harinya, setelah aku bangun dari tidurku, aku tidak sabar menunggu informasi datang kepadaku, aku harus mencarinya. Kalau perlu aku akan menemuinya, tetapi hal itu kuhindari karena aku khawatir malah membuatnya semakin stress. Aku pergi ke Salman dan berharap bisa bertemu dengan teman-temanku yang mengenalnya dan berencana menyusun rencana bersama-sama untuknya, tetapi ternyata rencanaku tidak berjalan. Aku tak bisa diam saja. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi tempat kosnya. Sampai di sekitar tempat kosnya aku berdoa kepada Allah agar aku bisa menjaga perkataanku, lalu aku meneleponnya dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya. Setelah bertemu, aku menanyakan kabar terbarunya. Dan akhirnya aku mendapat kepastian darinya bahwa ia memang melakukan perbuatan itu. Aku sempat bingung mau berkata apa. Ia bertanya tentang sikap Rektorat. Kujawab bahwa sulit mengubah keinginan rektorat selain DO. Aku tak berani mengungkapkan kata-kata yang diucapkan Rektor kepada Presiden KM. Kemudian aku mengarahkan pembicaraanku pada masa depannya dan memotivasi dirinya.
Sejak peristiwa itu aku mulai sibuk mencari informasi tentang perjokian di Makassar. Aku ingin tahu peristiwa yang terjadi dengan lebih jelas. Perhatianku terhadap kasus ini menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Aku mencoba bertanya kepada orang-orang dan mencari informasinya di media massa. Tulisan yang ku-posting sebelum ini merupakan hasil pencarianku untuk memperjelas peristiwa yang terjadi. Aku pun meminta para aktivis agar mengurusi mereka, tidak membiarkan mereka di-DO begitu saja, tetapi membantu mereka menentukan masa depan mereka.