Bagaimanakah Islam itu?

6 Maret 2009

Indonesia merupakan negeri berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Namun orang-orang yang tidak suka dengan kebangkitan Islam tidak membiarkan umat Islam di Indonesia mengamalkan ajaran agamanya. Mereka akan menjauhkan umat Islam dari ajaran-ajaran yang terkandung dalam Islam. Kesenangan-kesenangan dunia mereka suguhkan agar umat Islam tertarik untuk mengikutinya sehingga umat Islam meninggalkan hal-hal yang diajarkan oleh agamanya. Bir, narkoba, pacaran, seks bebas, pornografi, pornoaksi telah membuat umat Islam di Indonesia terperdaya. Meraka telah kehilangan jati dirinya, mereka menghabiskan hidupnya untuk suatu kesenangan yang semu, bahkan mereka tidak tahu apa yang diajarkan agamanya selain ibadah ritual yang mereka dapat ketika mereka masih kecil oleh guru ngaji atau guru agama mereka.

Saat ini sangat banyak umat Islam yang tidak memahami ajaran agamanya. Mungkin yang mereka tahu hanya sholat, puasa, zakat, dan haji secara umum. Mereka tidak memahami Islam sebagai ajaran yang syumul (sempurna) yang mengatur seluruh kehidupan kita baik secara individu, sosial, maupun kenegaraan.

Lalu, bagaimana Islam itu sebenarnya?

Aku di sini tidak akan menjelaskan ajaran Islam secara lengkap karena ajaran Islam sangat luas, bahkan sampai ajal menjemput kita masih belum tentu bisa mengetahui seluruh ilmu agama ini secara lengkap. Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk selalu mempelajarinya. Aku di sini mau menjelaskan bagaimana cara kita mempelajari ajaran Islam dengan benar karena saat ini sudah banyak penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam yang dikiranya sebagai ajaran Islam padahal sebenarnya Islam tidak mengajarkan hal itu. Selain itu, banyak juga pemikiran-pemikiran dari umat Islam yang beragam, bagaimana cara kita mengetahui mana yang benar?

Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Islam merupakan ajaran yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan oleh Rasul (utusan)-Nya, Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan rasul yang terakhir. Beliau diutus untuk menyampaikan kebenaran kepada seluruh umat manusia. Allah Berfirman, “Dan Kami tidak Mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’ : 28).

Beliau menyampaikan kebenaran Islam kepada umatnya selama 23 tahun. Setelah beliau menyampaikan seluruh ajaran Islam kepada umatnya, pada saat haji Wada’, beliau mengucapkan firman Allah, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu Nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi Agama bagimu” (QS. Al-Maidah : 3).

Firman Allah yang disampaikannya itu merupakan suatu pernyataan bahwa Islam telah diturunkan dengan sempurna, wahyu tidak turun lagi setelah itu. Pada saat itulah gambaran tentang Islam telah tampak, tidak hanya sekadar teori, wacana, atau tulisan semata. Di situ tampak bagaimana kaum muslimin (orang-orang Islam) mengamalkan ajaran agamanya dengan baik. Kita bisa mengetahuinya dengan mempelajari akhlak para sahabat Rasulullah. Pada saat itu, Islam tampak sebagai suatu sistem hidup yang tidak hanya mengatur kehidupan pribadi, tetapi juga mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Itulah ajaran Islam yang telah sempurna. Tidak ada lagi ajaran yang baru tentang Islam setelah itu. Dan kita diperintahkan untuk mengikuti cara hidup mereka, yaitu sunnah Rasulullah dan para sahabatnya, dan tidak membuat hal-hal yang baru dalam agama.

Rasulullah bersabda, “Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin yang mendapatkan hidayah sesudahku. Pegang teguh sunnah tersebut dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Hati-hati kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (Shahih. Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, sebagaimana dinukil di dalam kitab Kun Salafiyyah ‘alal Jaaddah).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.