Untuk melakukan pertahanan terhadap serangan dari musuh, manusia membuat benteng. Di sekitar benteng itu ditempatkan pasukan yang bersiap siaga menghadapi pasukan yang berhasil masuk. Ada pula petugas yang memanggil pasukan lain untuk membantu perlawanan yang terjadi di daerah yang sedang mengalami peperangan sengit.
Percayakah Anda bahwa peperangan seperti itu juga terjadi pada tubuh manusia? Di sekitar tubuh manusia terdapat jutaan musuh yang mengepung dirinya. Musuh ini berupa bakteri dan virus. Mereka sulit untuk masuk karena tubuh manusia diselimuti oleh sistem integumen yang berupa kulit bagaikan benteng yang mengelilingi istana. Sistem pernapasan dan sistem pencernaan bagaikan jalan utama masuk istana yang menerima perbekalan yang dibawakan oleh orang lain dari luar. Dan mereka tidak bisa masuk seenaknya karena harus mengalami penyaringan di dalam rongga hidung. Perbekalan yang diterima pun harus diproses sedemikian rupa sehingga perbekalan itu aman untuk didistribusikan di dalam tubuh. Asam lambung dapat membunuh sebagian besar bakteri yang berhasil masuk ke dalam tubuh.
Upaya kedua adalah perlawanan terhadap musuh yang berhasil menghancurkan benteng dan menghadapi perang terbuka. Inilah upaya tubuh dalam memerangi musuh yang berhasil masuk ke dalam tubuh.
- Fagosit akan memakan benda asing bagaikan pasukan yang bersiaga di sekitar benteng.
- Makrofag juga akan memakan virus lalu menyerahkan antigen virus kepada sel T penolong (helper T cell). Ini merupakan bentuk komunikasi antarpasukan.
- Sel T penolong akan memberikan sinyal untuk memperbanyak sel kekebalan lain dan memerintahkan untuk menyerang sel target bagaikan pasukan yang bertugas memanggil pasukan lain dan memberi aba-aba kepada mereka.
- Sel B akan memperbanyak senjata berupa antibodi yang tertentu sesuai perintah.
- Sel T pembunuh (cytotoxic T cell) akan menghancurkan sel-sel yang sudah dikuasai oleh musuh.
Dan berbagai proses lainnya yang menunjukkan bahwa tubuh manusia dilengkapi dengan sistem pertahanan yang bertujuan untuk menyelamatkan manusia itu sendiri.
Mungkinkah manusia hidup tanpa sistem kekebalan? Atau mungkinkah manusia hidup dengan sistem kekebalan yang tidak sempurna? Jadi, mungkinkah sistem kekebalan terbentuk secara bertahap dengan tetap menjaga kesehatan manusia? Bagaimana teori evolusi bisa menjelaskan kemunculan sistem ini? Mengapa mereka mau berjuang mati-matian bukan untuk melindungi diri mereka sendiri?
Ditulis oleh Firman Ahmad