Sebagian dari kita ada yang sudah tidak suka dengan kata filsafat, bahkan membenci filsafat. Faktanya memang banyak orang yang belajar di jurusan filsafat pikirannya menjadi kacau, memikirkan hal yang aneh-aneh, dan bermasalah dengan keyakinannya. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan filsafat?
Aku suka bertanya kepada orang-orang tertentu apa yang dimaksud dengan filsafat. Namun aku tidak pernah mendapat jawaban yang bisa mendefinisikan filsafat dengan jelas. Aku juga bingung menuliskan kata-kata untuk mendefinisikan filsafat. Untuk bisa memahaminya, silakan baca sejarah filsafat berikut ini!
Sejak dahulu manusia suka mempertanyakan tentang dirinya dalam menjalani kehidupannya, dari mana dia berasal dan untuk apa dia hidup. Secara fitrah manusia mengakui adanya Tuhan. Oleh sebab itu manusia juga suka mencari tahu siapa Tuhannya. Sikap ini memunculkan gagasan tentang Tuhan. Gagasan ini muncul dari pemikiran manusia. Dengan gagasan yang dibuatnya, manusia mencoba menjelaskan arti kehidupan. Penjelasan-penjelasan tentang arti kehidupan di antaranya dibuat oleh orang-orang Yunani kuno. Mereka disebut sebagai filsuf. Mereka mengandalkan akal mereka untuk menjelaskan arti kehidupan. Berbeda dengan Islam yang menempatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman yang paling utama dalam menjelaskan arti kehidupan, bukan akal. Akal ditempatkan di bawahnya. Akan tetapi, ketika kekuasaan Islam meningkat cukup pesat, ada sebagian umat Islam yang mempelajari karya-karya dari filsuf Yunani yang mereka dapat setelah menaklukan wilayah yang menjadi tempat penyimpanan karya-karya filsuf Yunani itu. Dua orang ilmuwan muslim yang sangat terkenal yang mempelajari filsafat Yunani adalah Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd. Dan keyakinan mereka menjadi rusak setelah mereka mempelajari filsafat itu. Aku mengira kelompok-kelompok dalam Islam yang menggunakan akal dalam menjelaskan ajaran Islam, seperti Mu’tazilah, bisa muncul karena mereka mempelajari filsafat Yunani. Pada saat itu ilmu kalam berkembang di kalangan umat Islam. Munculnya ahli kalam (orang yang belajar ilmu kalam) menimbulkan keresahan karena umat menjadi bingung setelah mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sulit dari mereka. Para ulama menyatakan haramnya mempelajari ilmu kalam. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada ahli ilmu kalam menurutku adalah dipukuli dengan pelepah kurma dan sandal lalu diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan kaum-kaum sambil diumumkan: ‘Inilah balasan/hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan malah menekuni ilmu kalam.’” Begitu kerasnya sikap Imam Asy-Syafi’i terhadap ahli kalam, tetapi sebenarnya apa yang dimaksud dengan ilmu kalam?
Aku suka bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan ilmu kalam. Orang-orang mengatakan bahwa ilmu kalam adalah ilmu filsafat. Menurutku ada perbedaan antara filsafat dengan ilmu kalam walaupun ada kemiripan. Kemiripannya adalah sama-sama mempertanyakan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang-orang, terutama masalah ketuhanan yang sudah di luar jangkauan manusia. Menurutku inilah yang membuat orang-orang menjadi rusak pemikirannya ketika mempelajari ilmu ini. Munculnya pertanyaan yang jarang terpikirkan oleh orang-orang membuat mereka memunculkan jawaban dari diri mereka sendiri berdasarkan nalar. Ahli kalam menggunakan jawaban itu sebagai landasan dalam beragama sehingga menjadi rusaklah keyakinan agama mereka. Seharusnya kita selalu menggunakan penjelasan dari Rasulullah dan para sahabatnya dalam memahami agama Islam ini. Itulah menurutku kesalahan ahli kalam. Sedangkan filsafat tidak mengkhususkan pada masalah agama, tetapi lebih global daripada itu. Filsafat menjelaskan segalanya di luar sudut pandang agama. Bahkan kata orang filsafat, agama merupakan bagian dari filsafat. Ini merupakan pembahasan yang lebih berbahaya daripada ilmu kalam. Ilmu kalam mungkin masih menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits dalam memberikan jawaban, sedangkan filsafat tidak menggunakan pernyataan tertentu (termasuk Al-Qur’an) sebagai pegangan sehingga mereka tidak mempunyai landasan berpikir selain menggunakan nalar. Namun, apakah benar filsafat hanya membahas masalah-masalah yang sudah kujelaskan di atas?
Aku sepakat bahwa filsafat menjelaskan segalanya, tetapi tidak sebatas membahas masalah-masalah di atas. Filsafat juga membahas hubungan kita dengan alam ini, sikap kita dalam melihat dunia, sains, ekonomi, dan sebagainya. Itu semua memang sudah dibahas di dalam agama, tetapi perbedaannya agama menggunakan landasan sebagai keyakinannya sedangkan filsafat tidak menggunakan landasan sehingga penuh dengan keragu-raguan. Orang-orang filsafat menuntut kita berpikir bebas, tanpa keterikatan apapun dalam berpikir. Dan menurutku inilah kesalahan orang-orang filsafat. Seseorang tidak mungkin berpikir tanpa terikat dengan apapun. Orang yang melepaskan ikatan terhadap Al-Qur’an dalam berpikir akan terikat dengan yang lain yang mungkin tidak disadarinya. Dan aku tidak menyarankan orang berpikir dengan cara seperti ini, apalagi menetapkan sikap berdasarkan cara berpikir seperti ini karena inilah yang membuat orang menjadi tersesat.
Aku sendiri berusaha membatasi pemikiranku, tetapi masalahnya sejak dahulu aku suka berpikir filsafat (bukan belajar filsafat) karena logikaku yang kuat dan sikapku yang sangat kritis. Aku merasa punya kemampuan dalam bidang ini, tetapi aku tidak menyarankan orang-orang mempelajari filsafat karena itu berbahaya bagi orang-orang yang tidak kuat dalam menghadapi pemikiran itu. Dan akibat dari mempelajari filsafat adalah timbulnya keraguan karena ia akan mempermasalahkan sesuatu yang menurut orang-orang tidak penting yang sebelumnya belum pernah terpikirkan. Aku juga tidak ingin terjebak dalam pemikiran yang membingungkan sehingga aku berusaha membatasi pemikiranku.
Di atas aku sudah menuliskan bahwa yang dibahas di dalam filsafat sudah dibahas di dalam agama, maka aku menganggap filsafat merupakan bagian dari agama (tidak seperti pendapat orang filsafat). Namun tidak seperti ahli kalam yang menggunakan akal dalam memahami agama, yang menggunakan dalil Al-Qur’an untuk mendukung pendapatnya. Menurutku filsafat tidak harus dipelajari karena filsafat merupakan cara berpikir seseorang, tidak harus ada ilmu khusus dalam berfilsafat. Aku mendefinisikan filsafat mungkin berbeda dengan orang-orang filsafat, kita tidak harus meninggalkan ikatan kita dalam berpikir filsafat. Masalah yang akan kubahas dalam filsafat bukanlah masalah-masalah yang berada di luar jangkauan manusia, dan di antaranya sudah ada ketika Rasulullah masih hidup. Di antara masalah itu adalah alasan kita memilih Islam, alasan kita menerima Nabi Muhammad sollallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah yang harus kita ikuti, yang menurutku merupakan bagian dari permasalahan filsafat.
Masalah yang kubahas di dalam kategori ingin kutujukan untuk orang-orang yang masih ragu dengan Islam. Bagi orang-orang yang sudah meyakini Islam sebagai ajaran yang benar tidak kusarankan membaca kategori ini. Dan aku meminta teman-teman agar tidak menge-link kategori ini, kecuali jika ia bertujuan meminta orang lain untuk membaca kategori ini karena orang lain itu membutuhkannya.
Sekian pengantar dari saya. Semoga bermanfaat.