Aku diterima di SLTP Negeri 4 Bogor dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang pas-pasan, yaitu sebesar (bukan sekitar) 40, tidak kurang dan tidak lebih tetapi pas 40,00 yang terdiri dari lima mata pelajaran. Kelima mata pelajaran itu diujikan dalam waktu tiga hari. Ketika ujian itu berlangsung aku sedang mengalami sakit diare pada hari pertama dan kedua sehingga aku tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan nyaman. Namun pada hari ketiga aku sudah sembuh dan siap mengerjakan soal ujian yang masih tersisa, yaitu Matematika. Dan Alhamdulillah aku bisa mendapatkan nilai yang sempurna pada mata pelajaran yang terakhir itu. Keempat nilai lainnya adalah sebagai berikut: PPKn 7,27, Bahasa Indonesia 7,98, IPA 8,71, IPS 6,04. Kelima nilai itu masih kuhafal hingga saat ini, mungkin karena daya serapku saat itu masih tinggi (Untuk memastikan kebenaran nilainya silakan dijumlahkan bahwa total nilainya memang pas 40). Aku mengatakan bahwa nilaiku pas-pasan karena jika nilaiku kurang 0,1 aku sudah tidak bisa diterima di sekolah ini. Batas minimal masuk sekolah ini adalah 39,91 yang merupakan peringkat kedua di Bogor pada saat itu.
Pada awal masuk sekolah ini saya masih lebih banyak diam, meneruskan kebiasaanku di SD, terlihat polos, sehingga teman-teman sekelasku mencoba bergaul denganku. Mereka mengajakku ngobrol, tetapi aku selalu tersenyum sebelum aku memulai obrolan itu, bahkan aku lebih sering tersenyum daripada ngobrol. Akibatnya ada yang memanggilku mr. smile, bahkan semakin banyak. Itulah julukanku ketika aku masih kelas 1 SLTP. Sayangnya julukan itu hanya bertahan ketika kelas 1 saja. Setelah kelas 2 aku sudah jarang dipanggil dengan julukan itu. Untuk mengabadikannya aku menjadikan julukan itu sebagai alamat e-mailku yang baru kubuat ketika kuliah tingkat 1, yang ujungnya ditambah tahun kelahiranku.
Karena sikapku yang masih polos, ada teman yang mengajakku pergi ke masjid untuk sholat Dhuha. Sampai di masjid ada yang mengajakku masuk ke dalam organisasi DKM. Itulah pertama kali aku mengenal dan masuk organisasi DKM. Dengan kondisiku yang masih polos sebenarnya aku mudah diajak ke mana-mana, tetapi aku selalu berpikir ketika diajak mengikuti sesuatu. Awalnya aku tidak tertarik mengikuti organisasi DKM. Aku hanya mengikuti ajakan mereka. Lalu aku mencoba memahami organisasi ini. Aku menggunakan hati nuraniku untuk menentukan apakah yang diajarkan kepadaku adalah sesuatu yang benar. Aku juga membandingkannya dengan pemahaman yang sudah kudapat sebelumnya. Aku sempat merasa ada yang aneh dengan sikap pengurusnya, tetapi aku tetap bertahan di organisasi ini bahkan hingga aku kelas 3. Tiga tahun aku memahami organisasi ini karena tiap tahunnya dibina oleh pihak yang berbeda-beda. Pada masaku organisasi sedang mengalami masa transisi, tetapi pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa di sinilah aku bisa memahami Islam lebih dalam.
Sifatku yang pendiam membuat teman sekelasku ingin mengajakku bergaul. Ia mengenalkanku kepada teman-temannya sehingga semakin banyak yang mengenalku. Bahkan mulai kelas 2 aku sering masuk ke kelas sebelah untuk menemui temanku sehingga aku dikenal oleh orang-orang yang ada di sana. Aku pun menjadi lebih mudah mengobrol dengan teman-temanku, tidak seperti ketika aku pertama kali masuk sekolah ini. Pada akhir kelas 3 aku merasa dikenal oleh sebagian angkatanku. Ketika perpisahan ada pembagian Buku Kenangan yang di antaranya berisi nama, tanggal lahir, dan kesan setiap siswa angkatanku. Pada buku itu aku menulis bahwa di sekolah ini aku banyak mengalami perubahan.
Prestasiku di sekolah ini lebih baik dibandingkan ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Kelas 2 dan kelas 3 aku masuk ke dalam kelas unggulan. Dua kali aku mengikuti lomba cepat tepat. Yang pertama adalah lomba yang diadakan oleh SMA Negeri 1 Bogor. Timku dikalahkan oleh tim yang berasal dari SLTP Negeri 1 Bogor. Lomba berikutnya yang kuikuti adalah Lomba Cepat Tepat Eksakta VI Plus yang diadakan oleh Sekolah Menengah Analis Kimia Bogor (SMAKBo). Aku kembali bertemu dengan tim yang berasal dari SLTP Negeri 1 Bogor tetapi aku tidak bertanding melawan mereka. Mereka dikalahkan oleh tim temanku. Timku dikalahkan oleh tim yang berasal dari Regina Pacis yang kemudian ternyata juga mengalahkan tim temanku itu. Seleksi masuk SMA berupa jumlah nilai 9 mata pelajaran. Dan ternyata aku berhasil mendapatkan nilai di atas rata-rata, yaitu 67,86 sehingga aku bisa diterima di sekolah terbaik di Bogor yang batas minimalnya adalah 64,88. Nilaiku jauh di atasnya tidak seperti nilaiku tiga tahun sebelumnya.