Pada bulan April aku disuruh oleh seniorku untuk mendaftarkan diri mengikuti training SIAware, tetapi beberapa hari sebelum training dilaksanakan aku menghadapi masalah, jadwal training bentrok dengan ujian. Aku diminta oleh seniorku menemui dosenku membahas masalah itu dengan didampingi olehnya agar mendapatkan izin untuk menunda ujian. Aku sebenarnya merasa kurang enak karena hampir tiga pekan aku tidak menemui dosen pembimbingku dan tiba-tiba aku datang kepadanya bukan membahas Tugas Sarjana, tetapi membahas masalah pribadiku. Pada hari Rabu, 28 April 2010 aku menemui beliau dengan didampingi seniorku. Aku mengatakan bahwa aku mau membahas hal lain selain tugas sarjana. Setelah ditanya, aku menjelaskan permasalahannya terkait training tersebut. Seniorku mengatakan bahwa selama training itu tidak boleh ada izin. Dosen pembimbingku awalnya menolak usulan kami dan mengatakan ”Saya dulu juga pernah jadi trainer, dan saya tahu kalau ada izin keluar di tengah-tengah akan menjadi kurang bagus, tetapi ini kan ujian. Seandainya kamu harus memilih, mana yang harus kamu pilih antara ujian dan training?” Beliau kembali berpikir lalu bertanya kepada seniorku tentang training tersebut. Akhirnya beliau pun memberikan saran yang lebih bijak, “Coba kamu SMS dosen kamu apakah boleh ditelepon. Nanti kamu jelaskan masalah kamu. Mestinya beliau akan mengerti. Kalau beliau membutuhkan surat rekomendasi, baru akan saya buatkan. Tapi kamu coba tanyakan dulu.” Beliau pun berkata kepada seniorku, ”Nanti tolong dibantu”. Tak kusangka beliau akan memberikan saran seperti itu. Lalu aku pun melaksanakan saran beliau. Walaupun dosen pengajarku ternyata tidak mengizinkanku menunda ujian, tetapi pada akhirnya aku tetap diizinkan untuk ikut training SIAware. (Baca selengkapnya di sini)
Pada hari Senin, 2 Mei 2010, sehari setelah acara SIAware, aku menuju ke kampus sekitar jam dua siang untuk menemui dosen pembimbingku. Sebelum menuju ke ruangannya aku duduk dulu di depan gedung itu. Aku mau istirahat dulu, lalu aku membaca catatanku yang berisi hal-hal yang telah kulakukan untuk disampaikan kepada dosen pembimbingku. Beberapa lama kemudian aku masuk ke gedung itu. Dan belum sampai ke ruangannya aku sudah bertemu dengannya, tetapi beliau mau mengajar dulu, maka kami mengadakan janji bertemu jam setengah empat. Setelah itu aku makan lalu sholat asar di Salman. Setelah sholat aku mengobrol dulu dengan temanku. Dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam setengah empat, maka aku terburu-buru menuju ke ruangan dosenku. Sampai di depan gedung itu sebenarnya aku ingin menenangkan diriku karena merasa lelah, tetapi aku akan semakin terlambat. Setelah diam sebentar aku pun menemui dosenku dengan sedikit lelah sehingga terlihat kurang semangat. Aku sudah mempersiapkan penjelasan yang akan kusampaikan kepadanya. Beliau pun bertanya kepadaku, ”Gimana perkembangannya?” Kujawab, ”Aku sudah bertemu dengan mahasiswa FKG”. ”Bukan itu”, beliau memotongnya dan berkata, ”Maksud saya trainingnya gimana?” Aku terkejut ternyata beliau ingin mengetahui hasil dari training itu. Aku mengatakan bahwa ada perubahan padaku, aku merasa lebih bersemangat setelah mengikuti training itu, tetapi beliau berkata, ”Kok gak kelihatan semangatnya?” Beliau pun menanyakan hal yang ingin kucapai setelah mengikuti training itu. Aku menjawab, ”Di akhir training saya menentukan beberapa hal yang akan kulakukan setelah training, salah satunya adalah menemui Bapak. Sebenarnya dari dulu sering muncul rasa takut dalam diri saya ketika mau menemui dosen/guru.” ”Sekarang masih takut?”, kata beliau. ”Sedikit”, jawabku dengan tersenyum. Lalu aku menjelaskan kondisiku yang sulit berubah dan susah digerakkan, tetapi kedua seniorku tertantang untuk mengubah diriku atau membuatku berubah, salah satunya dengan memaksaku ikut training SIAware. Aku berkata, ”Berdasarkan pengalamanku, aku berhasil digerakkan ketika aku diterjunkan langsung ke dalam suatu sistem.” Lalu aku mengaitkan dengan tugas sarjanaku. Aku menjelaskan bahwa aku tidak ingin mengetahui tentang kedokteran gigi hanya kulitnya saja. Aku ingin memahami jalan pikiran orang-orang yang dari FKG. Oleh sebab itulah aku ingin mengobrol dengan mereka. Dari penjelasanku ini beliau menyimpulkan bahwa aku ingin diterjunkan langsung ke FKG. Beliau berencana menghubungi dokter gigi yang akan dijadikan sebagai pembimbingku di sana. Aku diminta mengingatkan beliau untuk menghubungi dokter gigi itu. Itulah diskusi antara aku dengan dosen pembimbingku. Aku tidak menyangka ternyata pertemuan kali ini lebih banyak membahas training daripada Tugas Sarjana.
Dua hari kemudian aku mengingatkan beliau melalui SMS untuk menghubungi dokter gigi. Aku berpikir berkali-kali untuk menuliskan kata-kata yang bagus, tetapi setelah kukirimkan ternyata beliau membalasnya dengan balasan yang santai, ”Nah kan, lupa. Sy lg gi jkt. Besok ingetin ya..” Aku tidak menyangka kata-kata itu berasal dari dosen pembimbingku yang dikenal tegas dan disiplin. Akibatnya besoknya aku sudah tidak setakut sebelumnya untuk mengingatkan beliau kembali melalui SMS. Beliau pun menghubungi dokter gigi itu, lalu mendapat balasan darinya, ”Baik, mhs dari mana ya? Apakah mhs Itb? Silahkan saja, pd dasarnya sy setuju.” Sehari setelah itu aku kembali menemui dosen pembimbingku tanpa rasa takut untuk membahas pertemuanku dengan dokter gigi itu. Karena aku sedang menghadapi Ujian Akhir Semester dan masih ada tugas kuliah yang harus kukerjakan, kuputuskan untuk bertemu dokter gigi itu pekan depannya.
Pada hari Jum’at, 7 Mei 2010, pukul 8.30, sepekan setelah dosen pembimbingku menghubungi dokter gigi itu, aku menemui dokter gigi itu di Fakultas Kedokteran Gigi di Sekeloa berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Ketika datang ke sana aku masih belum punya gambaran tentang kawat gigi. Aku menanyakan analisis pergerakan gigi kepadanya. Beliau menjawab bahwa yang menganalisis pergerakan gigi sudah ada. Aku bingung apa yang selanjutnya perlu kulakukan untuk tugas sarjanaku. Aku diminta menemui dosen pembimbingku kembali untuk memperjelas. Pada hari Senin, 17 Mei 2010, aku kembali menemui dosen pembimbingku sekitar jam 2 siang. Belum sampai ke ruangannya aku sudah bertemu beliau. Kusampaikan informasi yang telah kudapat lalu beliau berkata, ”Kalau penelitiannya sudah ada, mengapa kamu tidak mencari tahu hasil penelitiannya? Mengapa kamu tidak meminta datanya? Kalau sudah ada penelitiannya, kita tinggal meneruskannya. Mengapa kamu tidak mengatakan, ’Bolehkah saya men-copy tesisnya untuk saya pelajari’?” Pertemuan itu hanya berlangsung sekitar 2 menit tetapi banyak saran yang kudapat.
Tiga hari kemudian, pukul 9.30, aku kembali menemui dokter gigi itu. Aku mencoba meminta data yang ada tetapi ditanya balik tentang data apa yang bisa kudapatkan di sini. Aku bingung menjawabnya. Melihat kebingunganku, beliau ingin berkomunikasi langsung dengan dosen pembimbingku melalui telepon. Beliau memintaku segera menemui dosen pembimbingku untuk memberitahukan hal itu, maka saat itu juga aku langsung menuju ke kampus untuk menemui dosen pembimbingku. Kukatakan kepada dosen pembimbingku, ”Kalau data tentang kekuatan gigi, di sana tidak ada, Pak.” Mendengar jawaban itu dosenku langsung mengeluh lalu menyuruhku duduk. Dosenku menanyakan apa saja yang sudah kita diskusikan, data apa saja yang kuperlukan, lalu data apa saja yang bisa didapat di FKG. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik setelah ditambah dengan pertanyaan yang lebih mendalam. Beliau berkata, ”Down to earth, down to earth! Sebagai seorang engineer kamu gak bisa hanya di awang-awang, kamu harus lihat bendanya. Lihat kasus di lapangannya seperti apa!” Beliau mencoba mengarahkan aku tetapi aku tetap tidak bisa menjawabnya dengan baik. Beliau menegurku, ”Selama ini kamu tidak pernah mencatat, bukannya dulu sudah saya bilang.” Kemudian beliau memberi tahu jawabannya lalu ”Tulis!”, kata beliau. Setelah memberikan penjelasan, beliau berkata kepadaku, ”Kamu itu perlu di-upgrade”. Itulah perlakuan beliau kepadaku. Setelah mendapat perlakuan seperti itu aku baru mengakui bahwa beliau memang benar-benar pernah menjadi trainer. Walaupun dengan perlakuan seperti itu, di sela-sela pembicaraan beliau berkata dengan suara pelan, ”santai saja tidak usah tegang”. Aku merasa beliau sudah bisa memahami aku, beliau tidak ingin mentalku jatuh setelah ditekan dan tidak ingin membuatku semakin takut terhadap dosen. Dan ternyata justru semangatku meningkat drastis setelah mendapat perlakuan itu. Aku merasa bisa melakukan yang lebih baik. Aku merasakan semangat seperti yang kurasakan ketika sedang menjalani training SIAware. Aku jarang merasakan semangat ini, dan ternyata beliau mampu memunculkan semangat ini dariku. Dari pernyataan beliau ”kamu itu perlu di-upgrade”, aku merasa bisa berubah menjadi lebih baik dengan mengerjakan tugas sarjana ini jika dibimbing oleh beliau. Aku salut jika beliau mau berusaha keras untuk mengubah diriku menjadi lebih baik seperti yang dilakukan oleh kedua seniorku dalam training SIAware. Seandainya hal ini benar-benar terjadi, mungkin akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan, dosen yang menjadi pembimbing tugas sarjana sekaligus menjadi pembimbing psikologis.
[...] Bersambung… [...]