Aku merupakan orang yang idealis. Dalam menentukan topik tugas sarjanaku, aku tidak mencari yang cepat selesai, tetapi menentukan topik yang sesuai dengan keinginanku walaupun sebelumnya jarang yang melakukannya. Aku tetap ngotot dengan topik itu. Sikapku ini mengakibatkan satu semester hanya menentukan topik TA. Dosen pembimbingku pun berkata kepadaku, “Jika kamu terus seperti ini yang tidak ada kemajuan, kapan kamu akan lulus? Kamu jangan terlalu ideal. Kamu juga harus memperhatikan kondisimu.” Dan akhirnya aku pun bersedia menerima topik yang ditawarkan oleh beliau. Sehari setelah aku menerima topik itu, dosen pembimbingku pergi ke Jepang selama satu bulan. Aku diminta untuk mencari literaturnya.
Selama dosenku berada di Jepang, tidak ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku. Aku mengalami kesulitan dalam mencari literaturnya karena aku malas mencari sesuatu yang baru. Setelah beliau kembali dari Jepang aku tidak langsung berkonsultasi dengannya padahal aku sering bertemu beliau di kelas. Setelah beberapa lama, aku kembali berkonsultasi dengannya di ruangannya. Saat itu aku lebih banyak membahas permasalahanku daripada membahas Tugas Sarjana. Aku berharap beliau bisa memahami permasalahanku terkait kesulitanku dalam mencari literatur. Aku berkata kepadanya, “Dari pengalaman, saya cenderung malas mencari sesuatu yang baru. Saya lebih suka menjelaskan sesuatu yang sudah kuketahui.” Kata dosenku, “Kalau begitu kamu merasa ilmu kamu sudah cukup?” Untuk mendapatkan ilmu biasanya saya menggunakan cara pasif, yaitu dengan ikut kuliah, mendengarkan dosennya, dan membaca bukunya daripada mencari tahu sendiri. Saya bingung kalau disuruh mencari di perpustakaan atau di internet. Aku menjelaskan sifat-sifatku kepada dosenku karena berharap beliau bisa memahamiku.
Pada awal Maret 2010 aku mendapat pinjaman buku dari mahasiswi FKG, lalu aku mempelajarinya. Kemudian aku mempresentasikannya kepada dosen pembimbingku pada tanggal 23 Maret. Itu merupakan presentasi pertamaku kepada dosen pembimbing. Aku merasa tidak siap dan kurang semangat sehingga aku kurang mempresentasikannya dengan baik. Slide presentasiku hanya berisi tulisan. Akibatnya aku mendapat banyak pertanyaan yang aku bingung menjawabnya. Beliau pun menjatuhkanku dengan mengatakan, ”Menjelaskan saja kamu tidak bisa. Kamu itu sebenarnya gak ngerti.” Aku sempat bingung terhadap pernyataan itu. Aku merasa sudah memahaminya, tetapi mengapa beliau berkata seperti itu? Setelah selesai presentasi aku baru sadar bahwa sebenarnya beliau sedang memahamkan aku bahwa mempresentasikan sesuatu harus jelas, tidak sekadar bicara, tetapi juga ditunjukkan dengan gambar atau diperagakan. Ternyata begitu cara beliau menyadarkanku. Aku berharap beliau bisa tetap mengondisikan aku ke depannya dan tidak membiarkanku dalam ketidakjelasan, tetapi masalahnya aku merasa tidak berani menemui beliau karena aku bingung apa yang akan kulaporkan kepadanya jika belum ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku.
Ditulis oleh Firman Ahmad