Bimbingan TA, atau Bimbingan Psikologi (bagian II)

27 November 2010

Pada bulan April aku disuruh oleh seniorku untuk mendaftarkan diri mengikuti training SIAware, tetapi beberapa hari sebelum training dilaksanakan aku menghadapi masalah, jadwal training bentrok dengan ujian. Aku diminta oleh seniorku menemui dosenku membahas masalah itu dengan didampingi olehnya agar mendapatkan izin untuk menunda ujian. Aku sebenarnya merasa kurang enak karena hampir tiga pekan aku tidak menemui dosen pembimbingku dan tiba-tiba aku datang kepadanya bukan membahas Tugas Sarjana, tetapi membahas masalah pribadiku. Pada hari Rabu, 28 April 2010 aku menemui beliau dengan didampingi seniorku. Aku mengatakan bahwa aku mau membahas hal lain selain tugas sarjana. Setelah ditanya, aku menjelaskan permasalahannya terkait training tersebut. Seniorku mengatakan bahwa selama training itu tidak boleh ada izin. Dosen pembimbingku awalnya menolak usulan kami dan mengatakan ”Saya dulu juga pernah jadi trainer, dan saya tahu kalau ada izin keluar di tengah-tengah akan menjadi kurang bagus, tetapi ini kan ujian. Seandainya kamu harus memilih, mana yang harus kamu pilih antara ujian dan training?” Beliau kembali berpikir lalu bertanya kepada seniorku tentang training tersebut. Akhirnya beliau pun memberikan saran yang lebih bijak, “Coba kamu SMS dosen kamu apakah boleh ditelepon. Nanti kamu jelaskan masalah kamu. Mestinya beliau akan mengerti. Kalau beliau membutuhkan surat rekomendasi, baru akan saya buatkan. Tapi kamu coba tanyakan dulu.” Beliau pun berkata kepada seniorku, ”Nanti tolong dibantu”. Tak kusangka beliau akan memberikan saran seperti itu. Lalu aku pun melaksanakan saran beliau. Walaupun dosen pengajarku ternyata tidak mengizinkanku menunda ujian, tetapi pada akhirnya aku tetap diizinkan untuk ikut training SIAware. (Baca selengkapnya di sini)

Pada hari Senin, 2 Mei 2010, sehari setelah acara SIAware, aku menuju ke kampus sekitar jam dua siang untuk menemui dosen pembimbingku. Sebelum menuju ke ruangannya aku duduk dulu di depan gedung itu. Aku mau istirahat dulu, lalu aku membaca catatanku yang berisi hal-hal yang telah kulakukan untuk disampaikan kepada dosen pembimbingku. Beberapa lama kemudian aku masuk ke gedung itu. Dan belum sampai ke ruangannya aku sudah bertemu dengannya, tetapi beliau mau mengajar dulu, maka kami mengadakan janji bertemu jam setengah empat. Setelah itu aku makan lalu sholat asar di Salman. Setelah sholat aku mengobrol dulu dengan temanku. Dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam setengah empat, maka aku terburu-buru menuju ke ruangan dosenku. Sampai di depan gedung itu sebenarnya aku ingin menenangkan diriku karena merasa lelah, tetapi aku akan semakin terlambat. Setelah diam sebentar aku pun menemui dosenku dengan sedikit lelah sehingga terlihat kurang semangat. Aku sudah mempersiapkan penjelasan yang akan kusampaikan kepadanya. Beliau pun bertanya kepadaku, ”Gimana perkembangannya?” Kujawab, ”Aku sudah bertemu dengan mahasiswa FKG”. ”Bukan itu”, beliau memotongnya dan berkata, ”Maksud saya trainingnya gimana?” Aku terkejut ternyata beliau ingin mengetahui hasil dari training itu. Aku mengatakan bahwa ada perubahan padaku, aku merasa lebih bersemangat setelah mengikuti training itu, tetapi beliau berkata, ”Kok gak kelihatan semangatnya?” Beliau pun menanyakan hal yang ingin kucapai setelah mengikuti training itu. Aku menjawab, ”Di akhir training saya menentukan beberapa hal yang akan kulakukan setelah training, salah satunya adalah menemui Bapak. Sebenarnya dari dulu sering muncul rasa takut dalam diri saya ketika mau menemui dosen/guru.” ”Sekarang masih takut?”, kata beliau. ”Sedikit”, jawabku dengan tersenyum. Lalu aku menjelaskan kondisiku yang sulit berubah dan susah digerakkan, tetapi kedua seniorku tertantang untuk mengubah diriku atau membuatku berubah, salah satunya dengan memaksaku ikut training SIAware. Aku berkata, ”Berdasarkan pengalamanku, aku berhasil digerakkan ketika aku diterjunkan langsung ke dalam suatu sistem.” Lalu aku mengaitkan dengan tugas sarjanaku. Aku menjelaskan bahwa aku tidak ingin mengetahui tentang kedokteran gigi hanya kulitnya saja. Aku ingin memahami jalan pikiran orang-orang yang dari FKG. Oleh sebab itulah aku ingin mengobrol dengan mereka. Dari penjelasanku ini beliau menyimpulkan bahwa aku ingin diterjunkan langsung ke FKG. Beliau berencana menghubungi dokter gigi yang akan dijadikan sebagai pembimbingku di sana. Aku diminta mengingatkan beliau untuk menghubungi dokter gigi itu. Itulah diskusi antara aku dengan dosen pembimbingku. Aku tidak menyangka ternyata pertemuan kali ini lebih banyak membahas training daripada Tugas Sarjana.
Baca entri selengkapnya »


Bimbingan TA, atau Bimbingan Psikologi? (bagian I)

20 November 2010

Aku merupakan orang yang idealis. Dalam menentukan topik tugas sarjanaku, aku tidak mencari yang cepat selesai, tetapi menentukan topik yang sesuai dengan keinginanku walaupun sebelumnya jarang yang melakukannya. Aku tetap ngotot dengan topik itu. Sikapku ini mengakibatkan satu semester hanya menentukan topik TA. Dosen pembimbingku pun berkata kepadaku, “Jika kamu terus seperti ini yang tidak ada kemajuan, kapan kamu akan lulus? Kamu jangan terlalu ideal. Kamu juga harus memperhatikan kondisimu.” Dan akhirnya aku pun bersedia menerima topik yang ditawarkan oleh beliau. Sehari setelah aku menerima topik itu, dosen pembimbingku pergi ke Jepang selama satu bulan. Aku diminta untuk mencari literaturnya.

Selama dosenku berada di Jepang, tidak ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku. Aku mengalami kesulitan dalam mencari literaturnya karena aku malas mencari sesuatu yang baru. Setelah beliau kembali dari Jepang aku tidak langsung berkonsultasi dengannya padahal aku sering bertemu beliau di kelas. Setelah beberapa lama, aku kembali berkonsultasi dengannya di ruangannya. Saat itu aku lebih banyak membahas permasalahanku daripada membahas Tugas Sarjana. Aku berharap beliau bisa memahami permasalahanku terkait kesulitanku dalam mencari literatur. Aku berkata kepadanya, “Dari pengalaman, saya cenderung malas mencari sesuatu yang baru. Saya lebih suka menjelaskan sesuatu yang sudah kuketahui.” Kata dosenku, “Kalau begitu kamu merasa ilmu kamu sudah cukup?” Untuk mendapatkan ilmu biasanya saya menggunakan cara pasif, yaitu dengan ikut kuliah, mendengarkan dosennya, dan membaca bukunya daripada mencari tahu sendiri. Saya bingung kalau disuruh mencari di perpustakaan atau di internet. Aku menjelaskan sifat-sifatku kepada dosenku karena berharap beliau bisa memahamiku.

Pada awal Maret 2010 aku mendapat pinjaman buku dari mahasiswi FKG, lalu aku mempelajarinya. Kemudian aku mempresentasikannya kepada dosen pembimbingku pada tanggal 23 Maret. Itu merupakan presentasi pertamaku kepada dosen pembimbing. Aku merasa tidak siap dan kurang semangat sehingga aku kurang mempresentasikannya dengan baik. Slide presentasiku hanya berisi tulisan. Akibatnya aku mendapat banyak pertanyaan yang aku bingung menjawabnya. Beliau pun menjatuhkanku dengan mengatakan, ”Menjelaskan saja kamu tidak bisa. Kamu itu sebenarnya gak ngerti.” Aku sempat bingung terhadap pernyataan itu. Aku merasa sudah memahaminya, tetapi mengapa beliau berkata seperti itu? Setelah selesai presentasi aku baru sadar bahwa sebenarnya beliau sedang memahamkan aku bahwa mempresentasikan sesuatu harus jelas, tidak sekadar bicara, tetapi juga ditunjukkan dengan gambar atau diperagakan. Ternyata begitu cara beliau menyadarkanku. Aku berharap beliau bisa tetap mengondisikan aku ke depannya dan tidak membiarkanku dalam ketidakjelasan, tetapi masalahnya aku merasa tidak berani menemui beliau karena aku bingung apa yang akan kulaporkan kepadanya jika belum ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku.

Bersambung…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.