Hampir dua tahun peristiwa itu berlalu. Sejak putusnya persahabatan di antara kita, kita pun jarang bertemu. Awalnya aku berat untuk bertemu denganmu di saat kau masih marah kepadaku. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Satu tahun yang lalu aku telah menulis tentang akhir dari persahabatan kita. Dan ketika menuliskan itu, sudah tujuh bulan aku tidak bertemu denganmu. Pertemuan terakhirku denganmu sebelum itu terjadi pada hari Sabtu, 31 Januari 2009 ketika kamu sedang dirawat di rumah sakit. Aku menjengukmu bersama temanku. Aku pun bertemu kedua orang tuamu. Ketika itu aku lebih banyak diam. Aku hanya sedikit bicara kepadamu saat itu, dan aku pun berat untuk menatap matamu. Aku masih segan karena kesalahanku yang masih membekas dalam dirimu. Dan ternyata kau pun tidak mau menatapku ketika aku mengajakmu bicara. Aku merasa kau masih belum bisa memaafkan aku. Sejak putusnya persahabatan itu, aku memang menjaga jarak denganmu. Perubahan besar dalam dirimu tidak bisa kuterima, aku ingin kau kembali seperti dulu. Kubiarkan kau setelah itu walaupun sebenarnya aku tidak tega meninggalkanmu. Biarlah hubungan kita seperti ini dulu. Berbulan-bulan aku tidak bertemu denganmu dan aku masih mempertahankan adanya jarak di antara kita. Aku ingin menegaskan kepadamu bahwa aku tidak suka dengan kamu yang seperti itu. Lebih baik aku tidak bertemu denganmu daripada aku bisa dekat denganmu tetapi harus menerima sikapmu yang seperti itu.
Pada hari Jum’at, 30 Oktober 2009, aku datang ke kampus setelah aku mengikuti pengajian. Aku masuk melalui gerbang belakang ITB. Saat itu aku bertemu temanku dan mengobrol dengannya. Ketika aku sedang mengobrol, kudengar ada orang yang memanggilku dari belakang. Setelah melihat ke belakang kuketahui ternyata orang itu adalah kau. Aku tidak menyangka kau sudah berani memanggilku padahal sebelumnya kau tidak mau berbicara denganku. Aku kaget dan bingung mau bersikap apa, aku ingin tetap menunjukkan ketegasan sikapku kepadamu, tetapi kau mencoba mengajakku ngobrol. Aku pun mau mengobrol denganmu tetapi hanya sebentar karena kita berbeda arah.
Pada bulan Maret diadakan Pemilu Raya pasangan calon Presiden KM ITB dan MWA wakil mahasiswa. Dan ternyata kau pun terlibat dalam Pemilu itu. Aku bisa lebih mudah bertemu denganmu dengan menghadiri acara itu. Pada pertengahan Maret kudengar kau sakit maka aku pun mendatangi kamarmu untuk mengetahui keadaanmu. Dan ternyata kau terlihat sehat maka aku pun ingin mengajakmu ngobrol. Itulah obrolan serius yang kembali kulakukan setelah satu tahun aku tidak mau mengobrol seperti itu. Aku ingin tahu bagaimana sikapmu sampai dengan saat itu. Aku pun mendengar penjelasan darimu dan ternyata kau masih seperti seperti saat kita berpisah dulu, tak ada perubahan padamu. Ternyata kutinggalkan kau satu tahun tidak membuatmu berubah kembali. Sebenarnya kutinggalkan kau selama itu untuk membuatku kembali berpikir. Dan ternyata hasilnya sama saja. Pada obrolan itu pun kita membahas sikapmu yang sudah bersedia mengobrol lagi denganku. Dan ternyata kau sudah mau memaafkanku. Kau merasa setiap orang berhak untuk dimaafkan, termasuk juga diriku. Pada pertemuan itu pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku masih tidak rela membiarkanmu seperti itu. Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kau kembali seperti dulu.
Pada hari Kamis, 25 Maret 2010 diadakan Hearing terpusat. Setelah hearing tersebut berakhir aku mengadakan janji mengobrol denganmu pada hari Sabtu. Kutunggu kau pada hari Sabtu namun ternyata kau tidak juga datang. Kau tidak bisa kuhubungi tetapi aku terus melacak keberadaanmu. Pada hari Senin aku berhasil menemukanmu dan mempertanyakan alasan kau tidak menepati janjimu. Kemudian kita kembali mengadakan janji mengobrol pada hari Selasa. Dan ternyata kau datang memenuhi janjimu dan bersedia mengobrol denganku. Di situ aku berusaha untuk membuatmu berubah tetapi aku gagal, kau tetap mempertahankan sikapmu. Aku tidak mau menyerah.
Kenyataan bahwa tidak ada perubahan padamu setelah kutinggalkan dirimu selama satu tahun membuatku perlu mengubah sikapku. Sepertinya aku perlu menunjukkan rasa cintaku kepadamu. Sebenarnya aku ingin dekat denganmu tetapi aku sengaja menjaga jarak denganmu. Aku tidak ingin mengkhianatimu lagi. Aku juga ingin menunjukkan bahwa aku masih tidak rela menerima sikapmu yang seperti itu. Saat terjadinya pemutusan persahabatan itu aku tidak siap berpisah darimu. Aku masih mencintaimu dan berharap bisa terus dekat denganmu. Aku mudah mengeluarkan air mataku untuk menunjukkan kesedihanku harus berpisah darimu. Namun setelah satu tahun berlalu kurasakan rasa cinta itu semakin memudar. Aku sulit untuk bisa merasakan kesedihan yang pernah kurasakan dulu, tetapi aku tidak menginginkan hal itu. Aku ingin tetap menjaga rasa cintaku kepadamu. Kau terlalu berharga untukku dan aku tidak ingin melupakanmu, tetapi mengapa aku semakin sulit merasakan itu? Hari Rabu tanggal 31 Maret 2010 merupakan malam penghitungan suara Pemilu. Aku datang ke tempat itu untuk kembali berbicara kepadamu. Ini adalah terakhir kalinya aku bisa menemuimu dengan mudah sebelum masa Pemilu Raya berakhir.
Sebelum datang ke tempat itu aku mencoba mengondisikan perasaanku. Dan ternyata memang sulit mengondisikan kembali perasaanku seperti dulu. Aku sulit mengeluarkan air mataku. Aku sedih mengapa aku tidak bisa merasakan kesedihan itu. Aku berdo’a kepada Allah agar bisa kembali merasakan kesedihan itu. Aku pun memasuki tempat penghitungan suara itu. Kulihat suasananya cukup ramai tetapi aku tidak ingin mengobrol dengan orang-orang. Aku ingin fokus kepadamu, berbicara kepadamu mengungkapkan yang ingin kulakukan untukmu. Setelah acara itu berakhir aku pun menemuimu, lalu bersalaman denganmu dan mengatakan aku tidak ingin membiarkanmu seperti ini, aku ingin terus berusaha membuatmu kembali, karena kau dulu adalah sahabatku. Perasaanku kepadamu memang sudah tidak seperti dulu, tetapi aku ingin tetap mengurusimu walaupun tanpa didasari adanya perasaan itu. Hari itu adalah hari terakhir kita berinteraksi seperti itu sebelum kita kembali pada aktivitas kita masing-masing. Dan kita akan kembali berjalan sendiri-sendiri. Sudah sekitar dua pekan kita sering bertemu dan beberapa kali aku mengajakmu ngobrol. Mungkin itu terasa tidak nyaman olehmu karena aku terlihat memaksakan kehendakku. Di akhir pertemuan itu aku berkata kepadamu, ”aku melakukan ini karena aku mencintaimu”.
Setelah berakhirnya Pemilu Raya, aku tidak pernah lagi bertemu denganmu. Kau kembali sulit kuketahui keberadaannya, tetapi aku tak bisa terus mengurusimu. Aku perlu menyelesaikan tugas sarjanaku untuk bisa lulus dari kampus ini. Akan tetapi, suatu saat nanti aku berencana akan kembali mengurusimu. Hari ini aku memposting tulisan ini untuk mengenang kembali peristiwa yang terjadi dua dan tiga tahun yang lalu pada tanggal yang sama dengan hari ini. Saat ini aku hanya bisa menunggu waktu yang pas untuk bisa mengurusimu kembali. Kuharap ketika kita bertemu kembali kau sudah mau berubah. Aku sangat senang jika kau kembali, tidak mempertahankan sikapmu yang sekarang ini. Aku mau kembali menerimamu jika kau mau kembali berubah.
seharusnya, perbedaan nggak menghalangi kita untuk saling berbagi.. =)
Komentarmu sama persis dengan komentar yang pernah kautulis di blogku setahun yang lalu.