Aku masih belum efektif dalam menjalani hidup. Kehidupanku banyak terisi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif, hanya diam tidak mengerjakan apa-apa dan terlalu banyak tidur. Rasa malasku yang masih kuat membuatku tetap berbaring di kasur memilih untuk tidur daripada bangkit untuk melakukan sesuatu. Aku malas mengerjakan sesuatu. Aku ingin berubah, tetapi salah satu karakterku adalah sulit berubah, ingin tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan lamaku. Sudah bertahun-tahun aku mencoba untuk memperbaiki sikapku ini, tetapi aku masih belum berhasil. Bahkan beberapa orang yang mencoba mengubah diriku bisa dianggap sudah menyerah karena aku cenderung mempertahankan sikap. Ketika tingkat 1 aku tinggal di rumah saudara jauh. Di sana aku dididik oleh saudaraku. Aku memang lebih produktif saat itu, tetapi saudaraku sering mengeluhkan sikapku yang susah untuk disuruh mengerjakan sesuatu. Perlu energi yang besar untuk mengubah diriku. Masalahku ini juga kuceritakan kepada seniorku yang namanya sama denganku. Aku sudah mengenalnya sejak awal masuk ITB. Aku suka diajak ngobrol olehnya ketika aku bertemu dengannya. Ia mengetahui tentang diriku dan ingin mengubah diriku.
Sejak tingkat 2 aku tinggal bersama teman-teman yang satu prodi (program studi) denganku. Aku sering berkata, “Aku tidak tahu siapa yang bisa membuatku berubah”. Orang-orang mengatakan bahwa yang bisa mengubah diriku hanyalah diriku sendiri. Akan tetapi, beberapa bulan setelah itu salah seorang seniorku merasa tertantang. Ia berkata kepadaku, “Dulu kamu pernah bilang kamu bingung siapa yang bisa mengubah kamu. Aku menerima tantangan kamu. Aku akan membuat kamu berubah”. Aku sering mengobrol dan menjelaskan masalahku kepadanya. Dan ternyata ia benar-benar berbuat sesuatu untuk mengubah diriku. Setelah mengetahui kelemahanku dan keinginanku untuk berubah, ia pun mengajakku ikut training Siaware (Self Insight Awareness Training).
Satu tahun yang lalu seniorku itu kembali memintaku/menyuruhku ikut training Siaware, tetapi aku selalu menolaknya karena aku menghindari acara yang menginap selama lebih dari dua malam. Di Salman aku kembali diajak oleh seniorku yang lain. Aku pun berkata, “Kenapa sih kok pada ngajakin saya ikut Siaware?” Namun aku tetap menyatakan tidak mau ikut training itu. Selama setahun setelah itu aku sering menjelaskan masalahku kepada seniorku yang satu prodi denganku itu, dan kami masih tinggal satu rumah. Ia melihat sikapku sehari-hari. Maka ia semakin ingin membuatku ikut training Siaware. Ia pun berkata kepadaku, “Pokoknya kamu harus ikut Siaware. Bukan hanya satu orang yang akan memaksa kamu. Akan ada tiga orang yang akan membawa kamu ke tempat acara walaupun kamu tidak mau.” Aku diancam akan dipaksa mengikuti pelatihan yang jauh lebih lama dan lebih berat daripada Siaware jika ia gagal membuatku ikut Siaware.
Pada siang hari tanggal 12 April 2010 seniorku itu ingin bertemu denganku di kampus. Setelah bertemu, aku diantar ke Villa Merah, tempat pendaftaran Siaware yang acaranya diadakan mulai Kamis sore tanggal 29 April 2010 hingga 2 Mei 2010. Sampai di sana aku diminta mengisi formulir pendaftarannya. Karena ada beberapa hal yang perlu kupikirkan jawabannya dan sebentar lagi waktu asar tiba, kubawa dulu formulir itu. Dua hari kemudian setelah kuliah, aku kembali diantar olehnya untuk mengembalikan formulir itu. Selanjutnya kami membahas biaya pendaftarannya, apakah aku punya uangnya atau tidak. Seniorku mau mencarikan uang asalkan alasannya jelas. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak punya uang karena aku selalu punya uang lebih di bank. Permasalahannya adalah aku tidak mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Siaware. Kukatakan bahwa aku tidak bersedia membayar penuh biaya pendaftarannya. Aku dimintai alasannya tetapi aku hanya diam tidak bisa memberikan alasan, tetap pada jawabanku sebelumnya. Akhirnya aku ditanya berapa besar uang yang mau kukeluarkan untuk Siaware. Aku pun menentukan besarnya, maka ia pun mencari sisanya dengan alasan bahwa aku hanya menyediakan dana segitu.
Pada hari Sabtu, 17 April 2010 seniorku itu sudah mendapatkan dananya, tetapi dari siang sampai maghrib aku ada acara. Dan ketika sore hari aku sakit. Jadinya seniorku menunda mengurus pembayarannya menjadi hari Senin. Setelah hari Senin tiba, pada siang hari, aku berangkat dari rumah menuju Gerbang Ganesa karena kami janjian bertemu di sana. Setelah kami bertemu, ia memberikan uang kepadaku. Di Villa Merah ternyata ada senior yang namanya sama denganku. Seniorku berkata kepadanya, “Lapor, tugas telah dilaksanakan. Laporan selesai.” Kemudian aku mengambil uang beberapa ratus ribu rupiah dari dompetku. Seniorku yang sudah ada di sana itu berkata, “Kok cuma segini? Minta dikorting?” Lalu aku mengambil sisanya dari kantongku yang baru diberikan oleh seniorku. Aku tidak bisa berlama-lama di sana karena saat itu aku ada janji lagi. Akhirnya prosedur pendaftaran telah kulakukan semua walaupun semuanya dituntun dan ditemani oleh seniorku sehingga aku mau melakukannya. Jika seniorku tidak melakukan itu mungkin aku tidak menyelesaikan pendaftaran ini karena sebenarnya aku masih tidak tertarik untuk ikut Siaware. Aku pernah ditanya oleh seseorang, “Kamu ikut Siaware, ya?” Aku berat untuk menjawab ya, kukatakan kepadanya, “lihat saja nanti”.
Pada hari Senin, 26 April 2010 aku datang kuliah pada pagi hari yang pekan lalunya aku tak datang karena sakit. Aku baru tahu bahwa ujian akan diadakan pada Kamis malam tanggal 29 April, padahal training dimulai pada saat itu. Setelah kuliah aku mengirimkan pesan singkat kepada panitia. Isinya sebagai berikut:
Saya Kamis malam ini ada ujian. Taining SIAWARE sebaiknya gimana? Apakah saya harus ikut kumpul jam setengah empat atau berangkat setelah ujian?
Pada pukul 11:09 aku mendapat balasan dari panitia sebagai berikut:
Oh begitu..dlm siaware pserta diwajibkan ikut dlm smua sesi,&sesi itu dimulai dr hari kamis jam 18.30.. seandainya kmu tdk bisa hadir dari jam tersebut,maka kmu tdk bisa menjadi peserta siaware.. kapan terakhir kami bisa mendapatkan konfirmasi kepastian kmu bisa ikut training ini?
Kuteruskan balasan itu kepada seniorku. Lalu seniorku memberi tahu kepada seniornya yang namanya sama denganku. Membaca pesan di atas, aku memilih tidak menjadi peserta Siaware kalau aku memang tidak diizinkan untuk mengikuti ujian. Aku merasa ada harapan untuk tidak jadi ikut Siaware bukan karena keputusanku. Pada pukul 18:06 aku mendapat pesan dari panitia lain yang isinya sebagai berikut:
Halo Kawan2, slmt kalian resmi mnjadi psrta Siaware 17,hr kamis ditunggu di villa merah jam 15.30,p’siapkan smua p’lengkapan yg tlah ditentukan, n jaket jgn lupa
Aku ingin menyampaikan kepadanya bahwa aku tidak jadi ikut, tetapi pada pukul 18:22 seniorku mengirimkan pesan kepadaku yang isinya sebagai berikut:
Man, kamu jangan bilang ga jd ikut Siaware dulu ya. Solusi dr langit sudah turun,tinggal dilaksanakan. Bsok pagi kita ketemu ya.
Besok pagi setelah aku bangun tidur, seniorku mengatakan kepadaku, “Solusinya sudah ada. Kita akan melakukan lobi. Kita akan melobi agar kamu diizinkan untuk ujian di waktu yang lain. Yang akan kita lobi adalah dosen kamu. Kalau tidak berhasil kita juga akan melobi dosen walimu dan dosen pembimbingmu. Dan yang akan melobi adalah kita bertiga, tidak hanya kamu.” Dalam hati aku berkata, “Gak salah nih! Jadwal ujian dilobi! Tetapi coba sajalah, kayaknya kecil kemungkinannya.” Dua orang yang akan mendampingiku ketika bertemu dosenku adalah seniorku dan seniornya. Aku mempercayakan kepada seniornya untuk meyakinkan dosenku karena beda usianya cukup jauh di atasku. Ia bisa menjelaskan kelemahan-kelemahanku bahkan merasa bahwa ikut Siaware lebih penting bagiku daripada ikut ujian. Aku merasa permintaannya bisa lebih diterima oleh dosenku. Tetapi sekitar pukul 10:40 aku diberi tahu seniorku bahwa seniornya tidak bisa ikut melobi karena sedang sibuk. Kalau begitu berarti hanya kami berdua yang akan melobi. Aku sendiri sebenarnya malas kalau aku sendiri yang menjelaskan. Ba’da dzuhur kami berdua mendatangi ruangan dosenku, tetapi sampai di sana kami tidak melihatnya, padahal sekitar jam 10 tadi aku melihat dosenku itu. Kami mencari tahu nomor kontaknya. Setelah kami mendapatkannya, aku mengirimkan pesan kepadanya yang isinya menyatakan bahwa aku ingin bertemu dengannya untuk membicarakan waktu ujianku yang bentrok dengan training Siaware. Setelah itu aku mendapat informasi bahwa beliau ternyata sedang berada di Jakarta. Akibatnya dialog dilakukan melalui SMS. Aku menuliskan kata-katanya dibantu oleh seniorku. Aku bertanya kepada dosenku apakah aku diizinkan ujian sendiri di waktu yang berbeda. Aku berharap dosenku menjawab ‘tidak’ sehingga urusan ini bisa cepat selesai, tetapi dosenku menjawab, “Ujian susulan disenggatakan bersama kls lain”. Aku bertanya lagi untuk memperjelas, “Jadi, apakah saya boleh mengikuti ujian susulan karena Kamis malam ini saya ada training?” Tetapi pertanyaanku tidak dijawab. Seniorku menganggap bahwa dosenku sudah mengizinkannya, tetapi aku membutuhkan kejelasan. Aku tidak ingin tidak lulus akibat tidak diizinkan ikut ujian susulan. Pada malam hari aku kembali bertemu seniorku di rumah. Untuk membuatku yakin, seniorku memintaku menanyakan kembali kepada dosenku. Aku pun mengirimkan pesan kepada dosenku pada pukul 20:25 yang isinya sebagai berikut:
Jadinya bagaimana Pak? Jika saya diizinkan untuk tidak mengikuti ujian pada Kamis malam, saya akan berangkat ke tempat training sejak Kamis sore.
Karena adanya ketidakjelasan, aku mengharapkan kami melaksanakan rencana tahap dua untuk memperkuat jaminan bahwa aku memang dibolehkan mengikuti ujian susulan, yaitu melobi dosen wali dan dosen pembimbingku agar mau membuat surat rekomendasi untuk ikut ujian susulan. Seniorku bersedia melakukannya. Besoknya pukul 05:12 aku mendapat pesan balasan dari dosenku. Isinya adalah sebagai berikut:
Kl tdk diijinkan bgm? Ini masalah anda jgn orang lain disuruh mikir. Dari sisi dosen: yang tidak hadir tanpa alasan yg jelas ya tdk bisa diberi susulan. Ujian susulan pd dasarnya membebani dosen krn harus buat soal lg dan periksa tersendiri. Anda silahkan ajukan permohonan nanti kami putuskan bisa diberi ujian susulan atau tdk pd akhir semester.
Sekitar jam 6 pagi seniorku menelepon seniornya lalu memberikan ponselnya kepadaku agar aku mengobrol dengan seniornya. Ia berkata, “Ini adalah cobaan buat kamu apakah kamu serius atau nggak untuk ikut Siaware. Bukan suatu hal yang kebetulan waktu Siaware bentrok dengan ujian. Pasti ada hikmah di balik itu. Selamat berjuang ya!”
Setelah itu aku melaksanakan rencana tahap dua. Sekitar jam 9 kami menemui dosen waliku di ruangannya. Aku menjelaskan masalahku kepadanya. Beliau ternyata memberikan respon yang positif, beliau mau menandatangani surat rekomendasi itu, tetapi yang berhak membuatnya adalah dosen pembimbingku yang lebih mengetahui tentang diriku. Setelah itu kami menemui dosen pembimbingku. Aku berkata kepadanya bahwa aku akan mengikuti training pada hari Kamis sampai Minggu tetapi Kamis malam ada ujian. Beliau berkata, “Kalau begitu kamu ujian dulu baru setelah itu nyusul ke sana”. Mendengar jawaban itu aku mempersilakan seniorku berbicara. Ia berkata bahwa selama training itu tidak boleh ada izin. Setelah dilobi akhirnya dosen pembimbingku memberikan saran yang lebih bijak, aku diminta bertanya kepada dosen pengajarku apakah aku boleh meneleponnya. Beliau juga mau membuatkan surat rekomendasi bila dosen pengajarku memintanya. Tak kusangka kedua dosenku itu memberikan respon positif terhadap usulan kami. Setelah itu aku melaksanakan saran dari dosen pembimbingku, yaitu mengirimkan pesan kepada dosen pengajarku apakah beliau boleh ditelepon, tetapi beliau tidak membalasnya. Kudengar beliau akan datang sore ini. Jam 4 sore beliau memang ada jadwal mengajar mata kuliah tertentu, dan seniorku mengambil mata kuliah itu. Pukul 15:55 aku kembali mengirimkan pesan kepada panitia yang isinya sebagai berikut:
Saya masih belum pasti akan ikut atau tidak. Kamis malam ada ujian. Saya sedang melobi dosennya untuk mendapatkan izin agar bisa ikut ujian pada waktu yang lain, tetapi sampai sekarang belum mendapatkan kepastian. Sore ini kayaknya baru bisa bertemu dosennya.
Pukul 16:00 aku mendatangi ruang kuliah itu dan ternyata beliau datang, tetapi aku tidak langsung mengobrol dengannya karena khawatir lama sehingga mengganggu kuliahnya. Aku memutuskan untuk menunggu di luar kelas hingga jam kuliah itu berakhir sambil mempersiapkan ujian.
Setelah kuliah berakhir aku masuk ke dalam kelas menghampiri dosennya. Aku meminta seniorku menemaniku dan membantuku ketika aku berbicara dengan dosennya. Aku menunggu dosennya yang sedang ditanya oleh para mahasiswanya tentang materi yang diujiankan besok. Pada saat itu, dosen itu berkata, “Yang namanya Firman mana sih? Ngerepotin saya aja”. Aku pun langsung menyahut dan menjelaskan bahwa aku sedang membutuhkan motivasi untuk membuatku lulus, maka aku perlu mengikuti training itu, tetapi dosen itu berkata, “Kamu ikut ujian dulu. Kalau ikut training kan bisa di lain waktu.” Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku perlu mengikuti training itu agar termotivasi. Dosen itu keluar dari kelas dan menuju ke ruangannya. Kami mengikutinya. Aku terus melobi dosen itu dan mengarahkan pembicaraannya pada rekomendasi dari dosen lain, tetapi aku gagal. Aku menoleh ke belakang melihat seniorku. Aku sudah menyerah tetapi aku tidak berani mengatakan tidak jadi ikut Siaware di depan seniorku. Aku ingin yang memutuskan aku ikut ujian atau tidak bukan aku. Akhirnya aku berkata kepada dosen itu, “Saya diminta ikut training itu oleh senior saya. Saya bingung harus memilih apa. Saya tidak bisa memutuskan ini sendiri. Saya kembalikan ke senior saya saja.” Selanjutnya seniorku yang menanyakan langsung apakah masih ada peluang lain. Dosen itu berkata, “Nggak ada”. Lalu dosen itu masuk ke dalam lift sedangkan kami tetap di luar. Akhirnya pernyataan itu dikeluarkan oleh dosenku. Saat itu perasaanku sedih bercampur senang. Aku sedih karena proses yang panjang ini, walaupun kedua dosen lain mendukungku, berakhir dengan sikap dosenku yang tidak menyetujui usulku, tetapi justru aku senang karena jika aku tidak diizinkan meninggalkan ujian berarti aku tidak jadi ikut Siaware. Setelah itu kami sholat maghrib. Sebelum sholat seniorku menelepon seniornya menyampaikan berita ini. Setelah kami sholat seniorku berkata, “Kamu tidak usah sedih. Sekarang kita belajar mempersiapkan ujian besok. Kamu tidak perlu menyampaikan apa-apa kepada panitia. Sekarang semuanya diurus oleh kami. Tugas kamu cuma melaksanakan perintah kami.” Yah, aku tidak jadi senang dan berkata, “Saya kira perjuangannya sudah berakhir sampai di sini dan saya tidak jadi ikut Siaware.” “Ini masih masuk bagian dari rencana. Aku masih mempunyai back up plan yang belum dilaksanakan, tetapi sekarang kamu mempersiapkan ujian dulu saja”, kata seniorku. Setelah itu saya belajar bersama teman-temanku hingga tengah malam.
Keesokan harinya, Kamis, 29 Mei 2010, seniorku masuk ke kamarku di saat aku masih setengah sadar. Ia sedang menelepon seniornya membicarakan aku lalu aku diminta berbicara dengan seniorku melalui ponsel itu. Seniornya berkata kepadaku, “Kami sudah mengobrol dengan panitia tentang keadaanmu. Dan kamu ternyata masih diizinkan untuk ikut Siaware, tetapi syaratnya kamu jam setengah sepuluh malam harus sudah ada di sana. Oleh sebab itu, untuk memastikan kamu sudah ada di sana jam setengah sepuluh, kamu perlu mengurangi waktu ujian kamu. Dari dua jam yang disediakan, kamu hanya menggunakan waktu sembilan puluh menit. Dan jam setengah sembilan kamu akan dijemput untuk menuju ke sana. Bagaimana? … Halo… Kok tidak ada suaranya? Masih ada orang di situ?” Mengetahui aku masih diizinkan ikut Siaware aku sedih. Dan saat ditanya tentang ujian 90 menit, aku terdiam, aku tidak ingin kata tidak dikeluarkan dari mulutku, tetapi aku harus menjawabnya. Aku pun menjawab, “aku tidak bersedia jika harus mengurangi waktu ujianku menjadi 90 menit”. “Oke, kalau begitu nanti kita ketemu di kantin Salman sekitar jam 9”, katanya. Setelah itu aku mandi lalu berangkat bersama seniorku naik motor ke Salman. Karena seniornya sedang sibuk mempersiapkan acara Siaware, aku baru bertemu dengannya sekitar jam 11 di kantin Salman. Di sana ada aku, seniorku, dan seniornya yang namanya sama denganku, ditambah dengan seorang mahasiswi yang datang dari Yogyakarta untuk mengikuti Siaware. Fokus pembicaraan selanjutnya adalah antara dua orang yang bernama sama di antara empat orang itu. Aku ditanya olehnya, “Sampai dengan saat ini, apakah kamu masih mau ikut Siaware?” Ia memberikan waktu 5 menit untuk berpikir. Setelah sekitar 10 menit berlalu aku menjawab pertanyaan itu, “Sebenarnya dari dulu aku tidak ingin ikut Siaware. Sudah sejak dua tahun yang lalu aku diajak untuk ikut Siaware tetapi aku selalu menolaknya. Setengah tahun yang lalu aku diminta ikut Siaware dan diancam jika tetap tidak mau mengikutinya. Dan ketika pendaftaran dibuka entah kenapa aku tidak merasa keberatan untuk mengikutinya walaupun sebenarnya aku masih tidak ingin mengikutinya, tetapi aku tidak mau membayar penuh biayanya karena dulu katanya saya akan disubsidi. Tetapi ternyata waktu Siaware bentrok dengan waktu ujian. Aku sebenarnya tidak ingin memperjuangkannya lagi setelah mendapat informasi tidak boleh izin, tetapi aku tetap mengikuti permintaan kalian karena aku merasa kalian bisa memperbaiki aku. Dan kemarin sebenarnya aku sudah menyerah. Dan untuk sekarang, jika saya diminta mengerjakan ujian hanya dalam waktu 90 menit, saya tidak bersedia karena itu di luar batas kemampuanku.” Ia berusaha mempengaruhiku, “Awalnya saya berpikir ‘tidak usah ikut ujian aja’, tetapi saya tidak menyarankan itu. Saya hanya meminta kamu mengorbankan waktu 30 menit. Dan saya merasa itu mungkin kaulakukan. Perjalanan ke sana sekitar satu jam, sulit untuk bisa ditempuh dalam 30 menit. Kalau mau 30 menit kecepatannya harus tinggi, dengan asumsi awalnya motor sudah dinyalakan dan siap untuk dijalankan, dan jalan tidak macet.” Walaupun sudah dijelaskan panjang lebar, aku tetap menolaknya. Ia berkata, “Tolong jawab sejujurnya, apakah kamu masih percaya kepada kami?” “Aku masih percaya, tetapi …”, “Jawab ya atau tidak.” Aku tidak berani mengatakan tidak karena aku tidak ingin mengecewakan mereka, aku pun tidak mau mengatakan ya karena aku tidak mau menuruti permintaannya itu, tetapi aku dipaksa mengatakannya. Aku ingin menangis dan kukatakan “untuk saat ini tidak!” dengan berteriak. “Gimana? Bisa diulangi?” “Untuk saat ini aku tidak mempercayai kalian!”, jawabku dengan rasa sedih. Ia berkata, “Saya tidak tahu sampai kapan kamu akan tetap seperti ini. Sampai kapan kamu menjadi budak dari pikiran kamu? Kamu akan sakit jika tetap seperti ini, baik secara biologis maupun psikologis. Saya sebenarnya sekarang ada kerjaan lain. Saya ditawari untuk mengajar privat dan dibayar Rp100.000,00 per jam tetapi saya menolaknya karena mau mempersiapkan Siaware karena itu menurutku lebih penting. Dan seharusnya sekarang saya berada di tempat Siaware, tetapi saya masih menyempatkan waktu ke sini, karena saya masih peduli sama kamu, saya merasa kamu masih pantas untuk mengikuti Siaware, dan kamu mungkin lebih siap karena kamu sudah dikondisikan dari sekarang. Yang lain mungkin masih bengong saat datang ke Siaware sedangkan kamu sudah mulai Siaware lebih dulu daripada yang lain. Apakah kamu tidak berpikir, kenapa kami bersusah-susah memperjuangkan kamu untuk ikut Siaware?” Karena adzan sudah berkumandang, aku menginginkan untuk dihentikan dulu. Maka kami pun berhenti sementara untuk sholat dzuhur dan bertemu kembali jam setengah satu di tempat yang sama.
Jam setengah satu kami kembali bertemu. Pembicaran dilanjutkan. Aku menjelaskan konsep ikhtiyar (usaha) dan tawakal. Aku merasa sudah saatnya untuk bertawakal, tetapi ia tidak sependapat. Ia menceritakan perjuangannya dalam mengerjakan tugas akhirnya. Ia ingin meyakinkan bahwa kita baru berhenti berusaha kalau yang kita usahakan itu sudah berlalu. Tantanganku adalah ujian, dan ujian masih berlum berlalu, maka seharusnya aku masih punya kesempatan untuk berusaha. Ia kembali menawarkan apakah saya masih bersedia keluar dari ruang ujian jam setengah sembilan. Sudah ada motor yang menunggu di luar untuk menjemputku jika saya bersedia. Namun aku tetap menjawab, “Tidak”. Ia pun akhirnya menerima sikapku, tetapi kemudian ia memberikan tantangan lain kepadaku, “Terakhir, jika kamu baru mau keluar jam 9, apakah kamu masih mau berusaha menyusul ke tempat acara?” Kujawab, “Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Aku akan memberatkan kalian jika aku mengatakan mau padahal sebenarnya aku tidak mau.” Aku mungkin tidak akan bersikap gesit sehingga sulit untuk mencapai tempat acara dalam waktu 30 menit. Ia berkata, “Kamu jangan merasa puas dengan usaha yang telah kamu lakukan. Tantangan itu masih belum lewat. Saya hargai perjuanganmu jika kamu masih mau berusaha untuk datang ke sana. Seandainya sampai di sana waktu sudah menunjukkan pukul 21.40 lalu kamu mencoba untuk masuk dan bertanya kepada yang ada di sana ‘apakah saya masih diizinkan untuk masuk ke dalam?’ ‘Maaf, kamu sudah terlambat. Jadi silakan pulang’, Itu baru yang namanya tawakal! Sekarang sudah jam 1 lebih 20, saya harus pergi.” Selanjutnya seniorku yang satu lagi yang mengurusi aku. Ia tidak memperpanjang pembicaraan. Ia tidak memintaku memutuskan. Ia mengatakan, “Pokoknya nanti malam aku akan menjemput kamu jam 9.” Nekat juga. Oke, saya akan melakukan yang bisa kulakukan untuk memenuhi permintaannya. Setelah itu saya langsung menuju ke kampus untuk kuliah. Saya sudah terlambat setengah jam.
Setelah kuliah aku menuju ke Salman untuk sholat asar kemudian pulang ke rumah. Sampai di rumah aku mengambil pakaian dan perlengkapan untuk kubawa yang telah kupikirkan sebelumnya. Kurang dari satu jam aku mempersiapkan barang-barang itu. Setelah itu aku kembali belajar, mencoba mengerjakan soal yang akan dikumpulkan saat ujian. Pukul 17.02 aku mendapat pesan singkat dari seniorku, “Man,jam21 tepat kita brangkat naik motor. Jgn lupa ya.” Setelah sholat maghrib aku keluar rumah dan berangkat ke kampus dengan menjinjing tas yang berisi pakaian, tetapi baru keluar gerbang aku terperosok ke dalam selokan di depan rumahku yang sedang diperbaiki. Aku tetap berangkat. Di tengah jalan aku mendapat pesan singkat dari temanku, “Asw. Man, nanti kalau udah selese ujian, langsung misscall sy ya. Qt ktemu di depan gerbang bonbin. Ntar sy anterin k lokasi SIAWARE.” Mantap, penjemputan ganda. Seniorku sudah menyiapkan orang lain yang akan menjemputku seandainya aku sudah keluar ujian sebelum jam 9. Sampai di kampus aku menaruh tas itu di sekretariat himpunan lalu aku menuju ke ruang ujian. Peserta kelasku terbagi dalam dua ruangan. Aku memilih yang di lantai 4 karena di lantai 1 ada dosenku. Ujian pun dimulai. Di tengah ujian, dosenku datang ke ruanganku untuk meralat soal. Saat itu beliau melihatku dan berkata kepadaku sambil menepuk bahuku, “Datang juga. Gimana, sudah termotivasi belum?”, tetapi aku tidak meresponnya. Aku mendengar hujan turun cukup deras. Aku menetapkan tidak mau berangkat dalam keadaan hujan, terlalu berisiko. Jam 9 kurang ponselku bergetar beberapa kali, ada pesan yang masuk. Aku masih sibuk mengerjakan soal dengan waktu yang terbatas ini hingga seniorku muncul di depan pintu dan memerintahkanku untuk cepat. Hujan ternyata sudah berhenti sehingga aku tidak punya alasan untuk tidak jadi berangkat. Kemudian aku merapikan alat tulisku dan langsung berlari ke bawah. Sampai di bawah aku mengatakan kepada seniorku bahwa tasku kutaruh di sekretariat himpunan, tetapi setelah itu aku ditelepon dan katanya kacamataku tertinggal. Aku pun kembali berlari ke lantai 4 untuk mengambil kacamataku. Aku semakin merasa bahwa aku tidak jadi ikut Siaware karena banyaknya kendala yang kuhadapi, sepertinya tidak mungkin untuk bisa sampai ke sana pukul 21.30. Setelah mengambil kacamata aku menuju ke sekretariat himpunan, mengambil tas, lalu naik motor. Waktu menunjukkan pukul 21.10. Aku pun berangkat diantar seniorku. Di jalan raya motor ini melaju kencang, apalagi ketika berada di jalan yang sepi, bisa mencapai 80 km/jam. Lampu sen kanan terus dinyalakan, selama motor ini bisa mendahului kendaraan di depannya akan dilakukan. Sampai di jalan masuk ke tempat acara waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Aku senang karena jam setengah sepuluh sudah terlewati. Aku diperintahkan berlari mengikutinya ketika sudah sampai tujuan. Aku pun melakukan perintahnya. Di tempat acara ada orang yang menyambutku. Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 21.37. Kuharap aku dipulangkan. Sampai di sana aku diminta menandatangani daftar hadir dan mendapat folder. Dalam hati aku berkata, “Yah, berarti aku diterima.” Aku sedih. Seniorku ternyata berhasil menjebakku untuk ikut Siaware. Perjuangan seniorku ternyata tidak sia-sia. Ia telah menjalankan empat plan dan dua back up plan untuk membuatku ikut Siaware, itulah yang dikatakannya kepadaku setelah Siaware.
Walaupun aku sedih dan tidak semangat ketika datang ke acara Siaware, aku merasakan kebahagiaan setelah ikut Siaware. Di akhir Siaware aku teringat dengan perjuangan kedua seniorku itu untuk memaksaku ikut Siaware, hingga membuat air mataku menetes. Belum pernah sebelumnya aku diperhatikan dan diperlakukan seistimewa ini. Mereka benar-benar berusaha untuk bisa membuatku berubah. Dan memang ada perubahan setelah aku ikut Siaware. Aku lebih bersemangat dalam menjalani hidup ini, semangat yang pernah kurasakan ketika aku masih di tingkat sekolah. Dan saat ini aku merasakan kembali semangat itu setelah bertahun-tahun aku menjadikan hidupku sebagai beban. Semangat inilah yang perlu kupelihara untuk membuatku bisa menatap masa depan dengan lebih cerah.
Semangat Man..
, dan mungkin mereka melakukan hal itu karena mereka pernah ikutan siaware sebelumnya, jadi mereka paham betul bahwa kamu memang PERLU mengikuti training ini.
saya mengerti, pada awalnya..kamu merasa kalau “pemaksaan” itu menyebalkan. Kalau saya berada di posisi kamu, mungkin saya juga akan merasakan hal yang sama. Tapi itu semua sudah lewat..dan kamu harus bisa melihat hal yang positif dari semua kejadian itu. Termasuk sampai sebegitunya senior2 kamu “memaksa” kamu untuk mengikuti siaware, itu tandanya mereka masih peduli dan masih sayang sama kamu
Saya iri karena kamu punya senior2 yang memperhatikanmu sampai seperti itu Man
Pemaksaan memang sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi ternyata saya mau menerima itu walaupun sebenarnya masih ada penolakan dalam hatiku. Saya mau melakukan permintaan kedua seniorku itu karena saya tidak ingin mengecewakan mereka. Saya salut dengan mereka yang mau memperjuangkan orang yang sebenarnya tidak mau. Mereka berusaha membujukku bahkan hingga melobi panitia agar saya bisa tetap menjadi peserta Siaware. Sampai dengan hari H saya masih tidak yakin training Siaware bisa mengubah diri saya, oleh sebab itulah saat itu saya sebenarnya menolak untuk ikut, tetapi sepertinya mereka yakin bisa mengubah diri saya di Siaware.
Saya memang seharusnya beruntung punya senior yang memperhatikanku sampai seperti itu, tetapi masalahnya saya yang tidak mau berubah. Sampai sebegitunya mereka “memaksa” saya untuk mengikuti siaware karena sulitnya membuat saya untuk mau berubah. Saya pun bertanya kepada diri saya apakah harus dengan cara seperti ini untuk bisa membuatku berubah.
“Saya pun bertanya kepada diri saya apakah harus dengan cara seperti ini untuk bisa membuatku berubah.”
Ya, kata2 itu memang seharusnya kamu tanamkan baik-baik di ingatanmu
Kamu ingat kan bunyi Q.S.13 ayat 11…
ayo ayo…coba dicek dulu..:D
silahkan diresapi maknanya
ada lagu ‘stand up’ ya,,?