Aku sudah mengambil mata kuliah Tugas Sarjana I sejak awal tahun lalu (2009) pada semester genap, tetapi aku baru menentukan dosen pembimbing menjelang akhir semester itu. Keinginanku adalah membuat teknologi yang meniru makhluk hidup, atau setidaknya mempelajari rancangan pada makhluk hidup. Yang membuatku lama adalah bingung mencari topik yang membahas hal itu. Bahkan setelah mendapatkan dosen pembimbing aku masih bingung dalam mencari literatur tentang hal itu. Setelah satu semester tidak ada perkembangan yang berarti, pada semester berikutnya aku pun menyerah dan menerima topik yang diusulkan oleh dosenku yang awalnya kutolak. Aku menerima topik itu karena masih berhubungan dengan yang kuinginkan, yaitu tentang Biomekanika. Aku diminta menganalisis gerakan gigi setelah dipasang kawat gigi. Sehari setelah aku menerima topik itu, dosen pembimbingku pergi ke Jepang selama satu bulan. Aku diminta untuk mencari literaturnya. Jika mau berkonsultasi bisa dilakukan melalui internet (chatting). Aku berusaha mencari bahasan tentang hal itu di internet, tetapi aku tidak berani berkomunikasi dengan dosen pembimbingku. Akibatnya tidak ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku. Pada semester itu nilaiku T (Tunda) pada matakuliah Tugas Sarjana I.
Pada semester itu aku mengambil matakuliah yang pengajarnya adalah dosen pembimbingku sehingga aku bisa lebih dekat dengan dosen pembimbingku. Beliau memberikan tugas. Dan ternyata terjadi seperti pengalamanku, aku jarang mengerjakan tugas yang diberikan. Aku berharap beliau bisa memahami sifatku ini ketika membimbingku. Setelah beliau kembali dari Jepang aku tidak memberikan informasi apa-apa kepadanya terkait tugas sarjanaku, dan beliau pun tidak pernah menanyakan itu kepadaku walaupun kami sering bertemu di kelas. Pada akhir semester itu aku sibuk mempersiapkan ujian beberapa matakuliah yang kuambil sehingga aku punya alasan untuk tidak mengurusi tugas sarjanaku dulu sementara.
Pada awal tahun ini (2010) aku kembali mengambil matakuliah Tugas Sarjana I karena jangka waktu berlakunya matakuliah tersebut hanya satu tahun. Beberapa temanku mengatakan bahwa aku menerapkan strategi yang salah, terlalu awal mengambil matakuliah tersebut, tetapi aku tidak menyesal. Aku merasa strategiku tidak salah karena tujuan utamaku mengambil matakuliah tersebut bukanlah karena aku sudah bisa menyelesaikan tugas sarjanaku, tetapi agar aku terpacu untuk mulai mengurusinya, dan itu berhasil. Kali ini aku juga mengambil matakuliah Tugas Sarjana II. Untuk itu diharapkan tugas sarjanaku bisa selesai Juli ini, atau paling lambat selesai akhir tahun ini sebelum matakuliah tersebut hangus (tidak berlaku lagi). Namun kenyataannya masih sama saja, aku masih bingung dalam mencari literaturnya, aku pun jarang menemui dosen pembimbingku. Beliau merasa aku masih belum serius mengurusi tugas sarjana. Setelah aku menyampaikan kesulitan itu kepadanya, beliau menyarankan aku pergi ke Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mencari literaturnya di sana. Pada awal Maret aku diberi tahu oleh dosen lain bahwa ada mahasiswi S1 FKG yang sering datang ke ITB. Aku berusaha menemuinya dan ternyata aku mendapat pinjaman buku darinya. Aku juga berhasil mendapatkan softcopy tugas akhir temanku yang sudah lulus yang membahas topik yang sejenis. Aku berusaha mempelajari buku itu. Aku diminta dosen pembimbingku untuk mempresentasikan materi yang kudapat dari buku itu. Pada tanggal 23 Maret 2010 aku pun mempresentasikannya. Aku memaksakan diri mempresentasikannya pada hari itu karena aku mau mengurusi hal lain selama satu pekan setelah itu padahal aku belum selesai mempelajarinya. Dan ternyata aku banyak mendapat kritik dan saran dari dosen pembimbingku. Baru kali ini aku dijatuhkan oleh beliau, tetapi setelah itu kusadari bahwa begitulah cara beliau mendidikku. Setelah presentasi berakhir aku menuliskan saran-saran yang dikatakan oleh beliau.
Aku diminta mencari data tertentu di FKG oleh dosen pembimbingku. Pada tanggal 7 April aku mengadakan pertemuan dengan mahasiswi S2 FKG yang suka bimbingan ke dosen pembimbingku. Dia datang bersama seniornya, tetapi kata mereka data yang dicari oleh dosen pembimbingku tidak ada. Aku merasa putus asa. Dua hari kemudian aku menemui dosen lain di ITB untuk mendapatkan topik yang lebih jelas. Lalu kutemui dosen pembimbingku lagi. Dan ternyata aku mendapat arahan yang baru, idenya mirip dengan sebelumnya, tetapi aku masih merasa belum yakin bisa melaksanakannya. Aku belum punya bayangan yang jelas tentang kawat gigi, dan aku merasa tidak nyaman jika hanya mengetahui sebagian tentang suatu ilmu, maka aku berusaha mencari tahu yang dipelajari oleh mahasiswa FKG. Pada tanggal 13 April aku kembali menemui mahasiswi S1 FKG yang sering ke ITB. Aku menanyakan hal tersebut yang berhubungan dengan kawat gigi, tetapi aku tidak mendapatkan jawaban yang jelas darinya. Maka dari itu aku ingin bertemu dengan dokter atau dosen dari FKG. Pada tanggal 16 April aku mencoba pergi ke tempat praktik di Sekeloa, dan ternyata ada yang mengantarku ke sana. Sampai di sana aku baru tahu bahwa ada tempat kuliah FKG Unpad untuk S2 di sana. Kemudian aku mau diperkenalkan dengan mahasiswa S2 FKG yang merupakan teman dari temanku, tetapi saat itu ia sedang tidak ada di sana. Aku kembali datang ke sana setelah mengadakan janji dengannya. Setelah bertemu, aku bertanya kepadanya untuk mendapatkan masukan, tetapi aku bingung mau minta penjelasan apa. Aku semakin tidak semangat untuk mengurusi tugas sarjana dan kurang berani menemui dosen pembimbingku dengan kondisi psikologisku yang seperti itu. Ketika itu aku sedang diajak untuk mengikuti training motivasi, yaitu training Siaware yang diadakan pada akhir April. Mungkin itu bisa membuatku kembali bersemangat, tetapi beberapa hari menjelang training ada masalah sehingga pekan terakhir April aku mengurusi masalah ini dulu. Aku bahkan menemui dosen pembimbingku untuk membahas masalah ini dulu sementara, bukan membahas tugas sarjanaku.
[...] di Jepang, tidak ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku. Aku mengalami kesulitan dalam mencari literaturnya karena aku malas mencari sesuatu yang baru. Setelah beliau kembali dari Jepang aku tidak [...]