Pada awal kuliah di ITB, aku memperhatikan unit-unit Salman yang sedang mengadakan Open House di Salman. Aku tertarik dengan salah satu unit itu. Sebelum aku mendaftar unit tersebut, aku melihat unit-unit yang lain dulu. Saat itu ada orang yang memanggilku dan bertanya, “Namamu siapa?” Kujawab, “Firman”. “Dari Biologi bukan?”, katanya. Setelah mengetahui jurusanku, salah seorang dari mereka mengatakan, “Ini namanya Firman juga” sambil menunjuk orangnya. Lalu kutanya, “Jurusan apa?” Ia menjawab, “Biologi”. Setelah mengetahui jurusannya aku langsung bertanya, “Apa pendapatmu tentang Teori Evolusi?” Ia pun balik bertanya kepadaku, “Buku apa yang sudah kaubaca tentang evolusi selain dari Harun Yahya?” Sejak sejak saat itu aku langsung berdebat dengannya hingga dzuhur. Itulah peristiwa yang terjadi saat aku pertama kali mengenalnya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia yang dari Biologi tidak sesemangat/seagresif diriku padahal aku bukan dari Biologi. Ia pun berkata kepadaku, “Kamu sekarang memang semangat membahas Evolusi, tetapi setahun atau dua tahun lagi kamu sudah tidak memikirkan masalah ini lagi, kamu sudah sibuk dengan jurusanmu.”
Beberapa bulan kemudian seniorku yang memiliki nama yang sama denganku itu beberapa kali menyuruhku pindah jurusan ke Biologi untuk menunjukkan kekonkretanku dalam mempelajari Evolusi, tetapi aku tidak melakukannya. Aku masih tidak ingin meninggalkan jurusanku yang sekarang. Dan aku tidak pernah punya keinginan untuk masuk Biologi, aku hanya terdorong oleh Harun Yahya untuk meruntuhkan Teori Evolusi. Desakan darinya semakin menumbuhkan keinginan untuk kuliah di Biologi. Aku pernah punya keinginan mengikuti SPMB lagi dan memilih jurusan Biologi di perguruan tinggi lain untuk kuliah dobel. Ketika tingkat 2, yang memintaku pindah ke Biologi tidak hanya seniorku itu, tetapi ada juga beberapa orang yang lain. Pada akhir tingkat dua aku pun merencanakan mengikuti SPMB lagi, tetapi ternyata rencanaku ini diketahui oleh orang tuaku hingga membuatnya kaget. Maka aku pun tidak jadi melakukannya, selain itu karena aku sebenarnya memang masih ragu untuk kuliah dobel.
Interaksiku dengan seniorku itu tidak hanya sebatas itu. Ia mempelajari karakterku, kebiasaanku, cara berpikirku, kehidupanku, dan permasalahanku. Metodenya hanya dengan mengobrol saat kami bertemu di Salman. Obrolan itu tidak intensif dan tidak berlangsung secara rutin, tetapi berkelanjutan. Waktunya memang tidak tentu tetapi kami ketika mengobrol bisa sampai sejam. Dari obrolan itu ia merasa ada kesamaan karakter denganku. Orang-orang yang sudah mengenal masing-masing di antara kami mengatakan bahwa kami sama-sama filsuf. Dari obrolan itu ia pun mengetahui kebiasaan-kebiasaanku yang jelek yang perlu diubah. Beberapa tahun setelah aku kuliah di ITB, ia mengatakan kepada seniorku yang lain bahwa ia sudah ditakdirkan bertemu denganku (dengan orang yang namanya sama dengannya), maka ia merasa bertanggung jawab untuk mengubah diriku menjadi lebih baik. Ia sering memberikan saran kepadaku agar aku meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelekku yang membuat hidupku tidak jelas atau tidak efektif. Dalam beberapa bulan terakhir ini, setelah hampir lima tahun ia mengenalku, ia tidak hanya memberikan saran tetapi juga mengondisikan diriku, terutama ketika aku diminta mengikuti training Siaware.
Ditulis oleh Firman Ahmad