Sulitnya Mencari Literatur dan Data TA

10 Juli 2010

Aku sudah mengambil mata kuliah Tugas Sarjana I sejak awal tahun lalu (2009) pada semester genap, tetapi aku baru menentukan dosen pembimbing menjelang akhir semester itu. Keinginanku adalah membuat teknologi yang meniru makhluk hidup, atau setidaknya mempelajari rancangan pada makhluk hidup. Yang membuatku lama adalah bingung mencari topik yang membahas hal itu. Bahkan setelah mendapatkan dosen pembimbing aku masih bingung dalam mencari literatur tentang hal itu. Setelah satu semester tidak ada perkembangan yang berarti, pada semester berikutnya aku pun menyerah dan menerima topik yang diusulkan oleh dosenku yang awalnya kutolak. Aku menerima topik itu karena masih berhubungan dengan yang kuinginkan, yaitu tentang Biomekanika. Aku diminta menganalisis gerakan gigi setelah dipasang kawat gigi. Sehari setelah aku menerima topik itu, dosen pembimbingku pergi ke Jepang selama satu bulan. Aku diminta untuk mencari literaturnya. Jika mau berkonsultasi bisa dilakukan melalui internet (chatting). Aku berusaha mencari bahasan tentang hal itu di internet, tetapi aku tidak berani berkomunikasi dengan dosen pembimbingku. Akibatnya tidak ada perkembangan yang jelas pada tugas sarjanaku. Pada semester itu nilaiku T (Tunda) pada matakuliah Tugas Sarjana I.

Pada semester itu aku mengambil matakuliah yang pengajarnya adalah dosen pembimbingku sehingga aku bisa lebih dekat dengan dosen pembimbingku. Beliau memberikan tugas. Dan ternyata terjadi seperti pengalamanku, aku jarang mengerjakan tugas yang diberikan. Aku berharap beliau bisa memahami sifatku ini ketika membimbingku. Setelah beliau kembali dari Jepang aku tidak memberikan informasi apa-apa kepadanya terkait tugas sarjanaku, dan beliau pun tidak pernah menanyakan itu kepadaku walaupun kami sering bertemu di kelas. Pada akhir semester itu aku sibuk mempersiapkan ujian beberapa matakuliah yang kuambil sehingga aku punya alasan untuk tidak mengurusi tugas sarjanaku dulu sementara.
Baca entri selengkapnya »


Satu Semester Hanya Menentukan Topik TA

7 Juli 2010

Awal tahun lalu (2009) pada semester genap aku mengambil mata kuliah Tugas Sarjana I, atau lebih dikenal oleh orang-orang dengan istilah TA (Tugas Akhir). Alasan utama aku mengambil mata kuliah ini bukanlah karena aku sudah memulai mengerjakan Tugas Sarjana, tetapi agar aku terpacu untuk mulai mengurusinya. Aku baru mengambil mata kuliah ini setelah sebelumnya aku mengambil mata kuliah Biomekanika karena aku ingin tugas sarjanaku berhubungan dengan Biomekanika. Aku mengajukan topik tentang Biomimikri/Biomimetika, yaitu teknologi yang meniru makhluk hidup. Bahasan seperti ini mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya di ITB.

Setengah semester telah berlalu tetapi aku belum melakukan apa-apa untuk mengurusi Tugas Sarjana. Pada akhir semester itu aku pun memberanikan diri menemui dosen. Dosen yang pertama kali kutemui adalah dosen Biologi untuk mendapatkan masukan dan inspirasi. Setelah itu aku baru menemui dosen dari program studiku yang akan kujadikan sebagai dosen pembimbingku. Aku memilih dosen itu karena sebelumnya beliau pernah membimbing Tugas Sarjana tentang Biomekanika. Beliau pun bersedia membimbingku dengan topik yang kuajukan itu, tetapi aku diminta untuk mencari literaturnya dulu sendiri tentang hal itu karena beliau tidak memfokuskan penelitiannya ke arah sana. Setelah literaturnya didapat baru akan didiskusikan bersama. Kemudian aku mencari bahasan tentang hal itu melalui internet dan berkonsultasi dengan dosen Biologi yang pernah kutemui itu.

Beberapa pekan kemudian aku kembali menemui dosen pembimbingku. Aku mengatakan kepadanya bahwa sulit mendapatkan penjelasan secara rinci tentang teknologi yang meniru makhluk hidup, dan aku pun masih bingung apa yang mau kutiru. Lalu beliau menawarkan beberapa alternatif, salah satunya adalah tentang kawat gigi, tetapi aku menolaknya, aku masih ingin berusaha mencari topik yang kuinginkan tersebut. Semester genap telah berlalu. Nilaiku T (Tunda) pada mata kuliah Tugas Sarjana I. Beberapa kali aku diminta untuk tidak terlalu ideal dalam menentukan topik tugas sarjanaku, baik oleh dosen pembimbingku, ayahku, maupun beberapa temanku.

Pada semester berikutnya aku mengambil mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Hewan untuk mendapatkan inspirasi. Aku pun mengambil mata kuliah Biofisika. Aku pernah menanyakan topik tugas sarjanaku kepada dosen mata kuliah Biofisika yang berasal dari Fisika, tetapi beliau tidak menawarkan contoh rancangan yang sebaiknya ditiru. Aku kembali menemui dosen pembimbingku. Aku kembali dinasihati oleh beliau, “Jika kamu terus seperti ini yang tidak ada kemajuan, kapan kamu akan lulus? Kamu jangan terlalu ideal. Kamu juga harus memperhatikan kondisimu.” Begitulah kira-kira yang dikatakan beliau. Aku juga disarankan oleh dosen Biologi yang pernah kutemui itu bahwa untuk mengerjakan Tugas Sarjana sebaiknya aku menerima topik dari dosenku, tentang keinginanku untuk memperdalam Biomimikri/Biomimetika bisa dilakukan setelah lulus. Aku pun mengatakan kepada dosen pembimbingku bahwa jika dalam satu bulan ini aku masih belum bisa menetapkan secara spesifik tentang topik yang kuinginkan tersebut, aku akan menerima topik dari beliau.

Pencarianku dilanjutkan dengan menemui dosen olahraga yang pernah mengajar mata kuliah Biomekanika. Aku meminta topik darinya. Aku sempat tertarik dengan topik yang ditawarkan. Setelah kupikir-pikir, aku memilih topik yang ditawarkan oleh dosen pembimbingku karena lebih sesuai dengan keinginanku dibandingkan dengan topik yang ditawarkan oleh dosen olahraga. Akhirnya setelah libur Idul Fitri, sekitar sehari sebelum dosen pembimbingku pergi ke Jepang selama sebulan, aku mengatakan kepadanya bahwa aku menerima topik darinya, yaitu tentang kawat gigi. Aku ingin menekankan pada analisis giginya, bukan kawatnya.


Baru Berkenalan Langsung Debat

2 Juli 2010

Pada awal kuliah di ITB, aku memperhatikan unit-unit Salman yang sedang mengadakan Open House di Salman. Aku tertarik dengan salah satu unit itu. Sebelum aku mendaftar unit tersebut, aku melihat unit-unit yang lain dulu. Saat itu ada orang yang memanggilku dan bertanya, “Namamu siapa?” Kujawab, “Firman”. “Dari Biologi bukan?”, katanya. Setelah mengetahui jurusanku, salah seorang dari mereka mengatakan, “Ini namanya Firman juga” sambil menunjuk orangnya. Lalu kutanya, “Jurusan apa?” Ia menjawab, “Biologi”. Setelah mengetahui jurusannya aku langsung bertanya, “Apa pendapatmu tentang Teori Evolusi?” Ia pun balik bertanya kepadaku, “Buku apa yang sudah kaubaca tentang evolusi selain dari Harun Yahya?” Sejak sejak saat itu aku langsung berdebat dengannya hingga dzuhur. Itulah peristiwa yang terjadi saat aku pertama kali mengenalnya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia yang dari Biologi tidak sesemangat/seagresif diriku padahal aku bukan dari Biologi. Ia pun berkata kepadaku, “Kamu sekarang memang semangat membahas Evolusi, tetapi setahun atau dua tahun lagi kamu sudah tidak memikirkan masalah ini lagi, kamu sudah sibuk dengan jurusanmu.”

Beberapa bulan kemudian seniorku yang memiliki nama yang sama denganku itu beberapa kali menyuruhku pindah jurusan ke Biologi untuk menunjukkan kekonkretanku dalam mempelajari Evolusi, tetapi aku tidak melakukannya. Aku masih tidak ingin meninggalkan jurusanku yang sekarang. Dan aku tidak pernah punya keinginan untuk masuk Biologi, aku hanya terdorong oleh Harun Yahya untuk meruntuhkan Teori Evolusi. Desakan darinya semakin menumbuhkan keinginan untuk kuliah di Biologi. Aku pernah punya keinginan mengikuti SPMB lagi dan memilih jurusan Biologi di perguruan tinggi lain untuk kuliah dobel. Ketika tingkat 2, yang memintaku pindah ke Biologi tidak hanya seniorku itu, tetapi ada juga beberapa orang yang lain. Pada akhir tingkat dua aku pun merencanakan mengikuti SPMB lagi, tetapi ternyata rencanaku ini diketahui oleh orang tuaku hingga membuatnya kaget. Maka aku pun tidak jadi melakukannya, selain itu karena aku sebenarnya memang masih ragu untuk kuliah dobel.

Interaksiku dengan seniorku itu tidak hanya sebatas itu. Ia mempelajari karakterku, kebiasaanku, cara berpikirku, kehidupanku, dan permasalahanku. Metodenya hanya dengan mengobrol saat kami bertemu di Salman. Obrolan itu tidak intensif dan tidak berlangsung secara rutin, tetapi berkelanjutan. Waktunya memang tidak tentu tetapi kami ketika mengobrol bisa sampai sejam. Dari obrolan itu ia merasa ada kesamaan karakter denganku. Orang-orang yang sudah mengenal masing-masing di antara kami mengatakan bahwa kami sama-sama filsuf. Dari obrolan itu ia pun mengetahui kebiasaan-kebiasaanku yang jelek yang perlu diubah. Beberapa tahun setelah aku kuliah di ITB, ia mengatakan kepada seniorku yang lain bahwa ia sudah ditakdirkan bertemu denganku (dengan orang yang namanya sama dengannya), maka ia merasa bertanggung jawab untuk mengubah diriku menjadi lebih baik. Ia sering memberikan saran kepadaku agar aku meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelekku yang membuat hidupku tidak jelas atau tidak efektif. Dalam beberapa bulan terakhir ini, setelah hampir lima tahun ia mengenalku, ia tidak hanya memberikan saran tetapi juga mengondisikan diriku, terutama ketika aku diminta mengikuti training Siaware.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.