Sejak SMA aku menerapkan aturan Islam dengan tegas dalam berinteraksi dengan perempuan, seperti tidak kholwat (berduaan-duaan), tidak bersentuhan, dan menjaga pandangan kepada perempuan. Aku bahkan menerapkan aturan yang lebih ketat dalam berinteraksi dengan perempuan, seperti tidak terlalu dekat dengan perempuan, tidak berada di dekat perempuan, atau tidak duduk di samping perempuan. Aku menerapkan aturan ini sebagai sistem penjagaan berlapis pada diriku agar aku tidak terjebak dalam perangkap setan. Dan aku menerapkan aturan ini setelah aku melihat teman perempuanku juga melakukan ini. Aku kagum dengan sikap mereka maka aku menirunya.
Sudah bertahun-tahun aku menjalankan aturan itu. Sekitar dua bulan yang lalu aku mengikuti suatu training yang memintaku lebih menggunakan perasaan. Ketika training aku memang masih sibuk memikirkan diri sendiri, tetapi setelah training aku disadarkan untuk lebih memahami yang dirasakan oleh orang lain. Berdasarkan pengalamanku aku sulit merasakan yang dirasakan orang lain secara utuh. Aku kembali mencobanya. Aku mencoba dekat dengan mereka untuk memahami kehidupannya. Dan sebagai seorang lelaki aku cenderung ingin dekat dengan perempuan, hingga rasa suka pun muncul. Aku akan terpacu untuk mau lebih memahami orang lain jika yang kujadikan sasaran adalah perempuan itu. Dengan perasaanku seperti ini aku akan tertarik untuk lebih memahami dia, membantu dia jika dia sedang menghadapi kesulitan, dan senantiasa menemani dia.
Ketika rasa suka itu muncul, aku ingin dekat dengannya, ingin berada di sampingnya dan mengobrol dengannya. Dengan cara ini aku akan memahami kehidupannya. Aku tidak mau duduk berdempetan dengan perempuan. Aku mencoba duduk di sampingnya yang terpisah oleh suatu barang, namun aku tidak berani mengajaknya ngobrol, aku malu. Upayaku biasanya berhenti di situ. Apakah aku akan melanjutkan untuk berinteraksi lebih dekat? Aku khawatir jika kulanjutkan aku tak bisa mengendalikan diriku. Jika rasa suka sudah mendominasi pikiran, susah untuk bisa berpikir logis. Akibatnya sikapku akan terlihat aneh oleh orang lain. Masalah pun mungkin timbul berupa terjadinya kontak fisik, dimulai dengan saling berpegangan tangan. Menurut orang-orang pada umumnya berpegangan tangan adalah hal yang biasa, tetapi bagiku berpegangan tangan dengan perempuan sudah merupakan bentuk pelanggaran aturan. Aku meyakini bahwa aku tidak boleh berpegangan tangan dengan perempuan yang bukan mahrom, tetapi aku tidak bisa menjamin bahwa aku tidak akan berpegangan tangan jika kondisiku dalam keadaan seperti itu. Aku sudah melihat beberapa temanku memegang tangan pacarnya padahal mereka sudah meyakini aturan itu, dan mereka tidak melakukan itu pada perempuan lain. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang tidak menetapkan batasan yang jelas dalam berinteraksi dengan perempuan? Aku sudah melihat fenomena orang yang sedang berpacaran. Mereka tidak hanya saling berpegangan tangan, mereka juga merangkul pacarnya, mendekap perut pacarnya, menyandarkan kepala atau badannya pada pacarnya, tidur di pangkuan pacarnya, dibelai oleh pacarnya, dan melakukan tindakan lain yang menggoda untuk kulihat. Walaupun itu enak dilihat, aku meyakini bahwa itu salah dan merasa tidak suka mereka melakukan itu, kecuali kalau mereka sudah menikah. Apakah itu semua tidak mungkin terjadi padaku? Aku tak bisa menjamin karena sudah kukatakan bahwa dalam kondisi seperti itu aku belum tentu bisa mengendalikan diriku, apalagi aku menginginkan itu. Mungkin saat itu aku sudah tidak bisa berpikir, sudah tidak ingat yang lain, termasuk aturan-aturan yang sudah kuyakini, bahkan sudah tidak mempedulikan apa yang ada di sekitarku.
Setelah cukup lama aku tidak bertemu dia, perasaanku kembali normal. Aku pun bertanya pada diriku, ada apa denganku. Dengan kesadaranku yang sekarang aku sudah tidak berkeinginan untuk pacaran. Aku sadar bahwa sebenarnya aku bisa melakukan kedekatan itu, tetapi tidak perlu dikhususkan kepada perempuan, apalagi khusus kepada perempuan tertentu, kecuali nanti setelah aku menikah. Kusadari saat itu aku memang sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan itu bisa terjadi lagi ketika aku sedang berinteraksi dengan perempuan.
yup. jangan mau terkalahkan oleh nafsu..inget aja..Rasulullah aja bilang lebih baik memegang bara api neraka dibanding memegang orang yg bukan mahram.lebih baik kita meninggalkan hal2 yg dilarang Allah, meskipun kita dianggap aneh karenanya, dikucilkan karenanya, karena ingat aja janji Allah SWT: “Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena الله, maka الله akan mengganti sesuatu yang lebih besar dari yang ia tinggalkan” (Al-Hadis)
sy juga baru menerapkan hal itu baru2 ini..setelah ikut suatu kajian..
ayo tetap semangat dan istiqamah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya..dan dalam beramal ma’ruf nahi munkar
Wah.. terima kasih Tazy, semoga Allah Memberikan balasan yang lebih baik. Semoga bisa istiqomah, dengan terus mencari ilmu agama agar kita semakin memahami agama kita sendiri, dan saling mengingatkan ya.
Selama hidup saya, baru sekali ini bertemu dan berkenalan langsung dengan pria yang berprinsip seperti Firman di SIAware17. Jujur, agak unik bagi saya pada awalnya, tapi kemudian perbedaan kontras itu menjadi referensi dan renungan menarik bagi saya pribadi. U’re different, man! And I admire u 4 that..
haha.. ngeri betul..
yah kalo wa, tradisi militan waktu SMA agak sedikit berubah sekarang..
sebenernya ga berubah juga sih.. waktu SMA wa punya dua komunitas.. komunitas pertama anak2 DKM yg militan.. komunitas kedua anak2 ekskul keamanan yg punya pride tinggi diantara anak2 SMA lainnya.. alasannya sih ekskul keamanan satu2nya ekskul di sekolah yg kaderisasinya dengan ospek ala militer.. biasalah anak SMA masih cupu, jadi yg kayak gitu dianggap hebat..
cuman dari sini ada pengalaman lain buat wa menghadapi perempuan.. wa pernah diospek bareng temen2 perempuan disini.. disiksa bareng, ngerjain tugas bareng, menjunjung dan membela organisasi bareng.. dari sini yg muncul sebuah kedekatan yg sifatnya seperti persaudaraan.. kalo di mesin, solidarity nya bener2 muncul lah..
jadinya kalo sama akhwat DKM, wa ngobrol hanya kalo ada jobdesc di DKM atau tugas sekolah, dengan cara ngobrolnya berada pada jarak 2-3 meter, dengan badan menghadap tegak lurus terhadap arah posisi lawan bicara, serta pandangan ke lantai..
tapi kalo sama cewek di ekskul keamanan, ngobrolnya ga ada bedanya dengan ke sesama lelaki, brutal dan blak2an.. dan karena memang perasaan suka ga muncul kalo ke cewek2 keamanan.. tapi perasaan teman yg rasanya lebih dari pacar.. seperti teman seperjuangan, atau bahkan saudara sendiri.. sedangkan kalo ke akhwat DKM, meski cara berinteraksinya sangat terbatas, terus wa juga ga pernah menyapa kalopun berpapasan.. cuman nunduk ajah ke lantai.. tapi perasaan suka tetep muncul.. malah lebih kuat.. bukan lebih kuat deng.. tapi satu-satunya perasaan suka muncul hanya kepada akhwat2 DKM ajah malah.. haha, tren aktivis mesjid ikhwan ini keknya..
dan jadinya wa terbiasa menghadapi perempuan dari berbagai latar.. kalo ke perempuan yg bukan aktivis DKM/rohis wa memperlakukannya seperti teman laki2, bahkan lebih mudah karena perasaan suka ga muncul tapi bener2 temen.. kek dengan senior perempuan wa di panahan yg sering banget bercanda dan saling ejek kalo lagi rapat organisasi.. dalam keadaan seperti itu syahwat malah ga muncul..
tapi kalo ke aktivis rohis, wa tetep berusaha menjaga tradisi waktu SMA yg militan.. dan yah, entah yah.. karena sesama aktivis sadar bahwa interaksi harus dibatasi supaya ga timbul syahwat.. karena batasan ini jadinya interaksinya ga seperti dengan temen2 perempuan wa yg brutal, tapi sepertinya malah lebih gampang timbul syahwat.. jadinya aturan yg wa tetapkan dalam kondisi ini memang jadi ketat..
tapi satu hal sih, dalam keadaan apapun conciousness perlu benar2 terjaga.. maksudnya kesadaran.. ketika kita menghadapi sesuatu, kita sadar apa kita hadapi dan pilihan apa yg kita ambil untuk menghadapinya..
jadi usahakan setiap perbuatan dalam berinteraksi dengan berbagai perempuan tersebut bukan hanyalah refleks dari kebiasaan penerapan aturan kita.. tapi kita benar2 sadar, bahwa kita akan berinteraksi, apa2 aja yg harus dijaga, apa2 aja konsekuensinya, kenapa harus memilih untuk berinteraksi secara blak2an dengan seorang perempuan, kenapa tidak..
dengan cara seperti ini, alhamdulillah ga pernah tergoda untuk pacaran, karena sebelum wa berinteraksi, udah banyak pikiran.. bahkan dalam benak wa juga sering muncul pikiran seperti : wa suka ama cewek ini, tapi so what kalo suka? kenapa saya harus melakukan sesuatu hanya karena saya suka? ga penting banget.. saya punya urusan, dan akan saya selesaikan urusan saya..
kira2 gitu dalam benak wa..
Bien, ketegasanku dalam melaksanakan aturan sepertinya sudah menjadi karakterku, apalagi itu adalah aturan Islam yang sudah kuyakini kebenarannya, tetapi sebagai manusia normal saya tetap tergoda.
Syauqi, caramu bagus, tetapi keinginanku untuk memperhatikan dan memahami perempuan mendorongku untuk lebih dekat kepada perempuan. Dan biasanya kedekatan lelaki kepada perempuan diwujudkan oleh orang-orang dengan pacaran. Semoga aku tidak terperangkap dalam lembah asmara itu.