Tergoda untuk Pacaran

26 Juni 2010

Sejak SMA aku menerapkan aturan Islam dengan tegas dalam berinteraksi dengan perempuan, seperti tidak kholwat (berduaan-duaan), tidak bersentuhan, dan menjaga pandangan kepada perempuan. Aku bahkan menerapkan aturan yang lebih ketat dalam berinteraksi dengan perempuan, seperti tidak terlalu dekat dengan perempuan, tidak berada di dekat perempuan, atau tidak duduk di samping perempuan. Aku menerapkan aturan ini sebagai sistem penjagaan berlapis pada diriku agar aku tidak terjebak dalam perangkap setan. Dan aku menerapkan aturan ini setelah aku melihat teman perempuanku juga melakukan ini. Aku kagum dengan sikap mereka maka aku menirunya.

Sudah bertahun-tahun aku menjalankan aturan itu. Sekitar dua bulan yang lalu aku mengikuti suatu training yang memintaku lebih menggunakan perasaan. Ketika training aku memang masih sibuk memikirkan diri sendiri, tetapi setelah training aku disadarkan untuk lebih memahami yang dirasakan oleh orang lain. Berdasarkan pengalamanku aku sulit merasakan yang dirasakan orang lain secara utuh. Aku kembali mencobanya. Aku mencoba dekat dengan mereka untuk memahami kehidupannya. Dan sebagai seorang lelaki aku cenderung ingin dekat dengan perempuan, hingga rasa suka pun muncul. Aku akan terpacu untuk mau lebih memahami orang lain jika yang kujadikan sasaran adalah perempuan itu. Dengan perasaanku seperti ini aku akan tertarik untuk lebih memahami dia, membantu dia jika dia sedang menghadapi kesulitan, dan senantiasa menemani dia.

Ketika rasa suka itu muncul, aku ingin dekat dengannya, ingin berada di sampingnya dan mengobrol dengannya. Dengan cara ini aku akan memahami kehidupannya. Aku tidak mau duduk berdempetan dengan perempuan. Aku mencoba duduk di sampingnya yang terpisah oleh suatu barang, namun aku tidak berani mengajaknya ngobrol, aku malu. Upayaku biasanya berhenti di situ. Apakah aku akan melanjutkan untuk berinteraksi lebih dekat? Aku khawatir jika kulanjutkan aku tak bisa mengendalikan diriku. Jika rasa suka sudah mendominasi pikiran, susah untuk bisa berpikir logis. Akibatnya sikapku akan terlihat aneh oleh orang lain. Masalah pun mungkin timbul berupa terjadinya kontak fisik, dimulai dengan saling berpegangan tangan. Menurut orang-orang pada umumnya berpegangan tangan adalah hal yang biasa, tetapi bagiku berpegangan tangan dengan perempuan sudah merupakan bentuk pelanggaran aturan. Aku meyakini bahwa aku tidak boleh berpegangan tangan dengan perempuan yang bukan mahrom, tetapi aku tidak bisa menjamin bahwa aku tidak akan berpegangan tangan jika kondisiku dalam keadaan seperti itu. Aku sudah melihat beberapa temanku memegang tangan pacarnya padahal mereka sudah meyakini aturan itu, dan mereka tidak melakukan itu pada perempuan lain. Lalu bagaimana dengan laki-laki yang tidak menetapkan batasan yang jelas dalam berinteraksi dengan perempuan? Aku sudah melihat fenomena orang yang sedang berpacaran. Mereka tidak hanya saling berpegangan tangan, mereka juga merangkul pacarnya, mendekap perut pacarnya, menyandarkan kepala atau badannya pada pacarnya, tidur di pangkuan pacarnya, dibelai oleh pacarnya, dan melakukan tindakan lain yang menggoda untuk kulihat. Walaupun itu enak dilihat, aku meyakini bahwa itu salah dan merasa tidak suka mereka melakukan itu, kecuali kalau mereka sudah menikah. Apakah itu semua tidak mungkin terjadi padaku? Aku tak bisa menjamin karena sudah kukatakan bahwa dalam kondisi seperti itu aku belum tentu bisa mengendalikan diriku, apalagi aku menginginkan itu. Mungkin saat itu aku sudah tidak bisa berpikir, sudah tidak ingat yang lain, termasuk aturan-aturan yang sudah kuyakini, bahkan sudah tidak mempedulikan apa yang ada di sekitarku.

Setelah cukup lama aku tidak bertemu dia, perasaanku kembali normal. Aku pun bertanya pada diriku, ada apa denganku. Dengan kesadaranku yang sekarang aku sudah tidak berkeinginan untuk pacaran. Aku sadar bahwa sebenarnya aku bisa melakukan kedekatan itu, tetapi tidak perlu dikhususkan kepada perempuan, apalagi khusus kepada perempuan tertentu, kecuali nanti setelah aku menikah. Kusadari saat itu aku memang sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. Dan itu bisa terjadi lagi ketika aku sedang berinteraksi dengan perempuan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.