Sikapku melihat perempuan pulang malam

7 Mei 2010

Pada tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan bagaimana menyikapi perempuan yang pulang malam. Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang sikap saya dalam menghadapi hal itu. Telah kukatakan bahwa tidak baik perempuan pulang malam, tetapi jika terpaksa harus ada yang menjaganya/mengantarkannya. Dengan dasar itulah aku tidak ingin membiarkan perempuan pulang malam sendirian, apalagi saat aku melihat seorang muslimah masih berada di jalan di atas jam sepuluh malam. Aku tidak ingin membiarkannya karena jam segitu sudah terlalu malam, bahkan ada yang berpendapat bahwa kaum muslimah harus pulang sebelum maghrib. Tidak wajar perempuan masih belum pulang hingga larut malam, tetapi karena aku melihat kejadian itu yang berarti kejadian itu memang sudah terjadi, kita tidak bisa melarangnya, barangkali dia memang terpaksa pulang malam. Aku merasa bersalah jika membiarkannya karena keselamatannya bisa terancam jika dia dibiarkan pulang malam tanpa ada laki-laki yang menjaganya. Aku pernah mendengar komentar dari kaum perempuan yang mengkritik kaum laki-laki karena hanya bisa menyalahkan mereka tanpa memberikan solusi, maka aku mencoba untuk menawarkan solusi, yaitu dengan mau mengantarkan mereka pulang jika mereka memang terpaksa pulang malam.

Biasanya perempuan terpaksa pulang malam karena ada urusan akademik. Ada salah satu program studi di ITB yang sering mengadakan kegiatan akademik pada malam hari. Akibatnya mahasiswanya terpaksa pulang malam untuk bisa lulus, termasuk juga mahasiswi yang ada di kelas itu. Aku ingin memastikan bahwa ada yang mengantarkan mereka pulang karena bukan kehendak mereka sendiri untuk pulang malam. Aku pernah memantau bagaimana para mahasiswi itu pulang, apakah mereka menghadapi masalah atau tidak. Aku pun pernah mengantarkan pulang beberapa orang di antara mereka, bahkan beberapa kali. Setelah itu kusadari bahwa tidak bagus jika aku melakukan ini terus, tetapi aku tidak tega membiarkan mereka karena ini bukan keinginan mereka sendiri.

Pada suatu ketika, yang kupermasalahkan itu ternyata menjadi kenyataan, sempat muncul gosip ketika aku mengantarkan pulang salah seorang di antara perempuan itu, padahal seorang temannya pun ikut menemani kami agar kami tidak hanya berdua. Aku mungkin tidak terlalu mempermasalahkan gosip yang beredar ini karena karakterku memang cuek, tetapi pihak perempuan yang terkena gosip ini merasa sangat tidak nyaman terhadap hal ini, maka aku pun harus mengambil sikap. Selama dua bulan setelah kejadian ini aku menghindari masalah ini dulu, menunggu kondisinya kembali normal. Akibat kejadian itu aku sudah tidak bersemangat lagi untuk terjun langsung ke lapangan melihat fakta yang terjadi. Niatku yang ingin membantu mereka ternyata malah menjadi seperti ini. Sepertinya aku lebih baik kembali pada medan kata-kata, menumpahkan ide-ide dalam tataran teori, hanya menghimbau mereka untuk melakukan yang seharusnya, daripada terjun langsung ke lapangan yang malah menimbulkan masalah. Dua tulisan tentang hal ini yang kubuat sebelum ini adalah bentuk ungkapan itu.

Sepertinya aku sudah tidak bersemangat lagi mengurusi perempuan yang pulang malam. Aku pernah melihat juniorku yang masih betah mengikuti suatu acara di kampus hingga larut malam. Sempat terbesit dalam hatiku, “Ya sudah, biarkan sajalah, terserah mereka mau apa, capek ngurusin mereka”. Pernyataan semacam itu pernah dikatakan oleh temanku karena telah jenuh melihat kondisi kampus yang tidak semakin islami. Sebagai seorang muslim tidak selayaknya membiarkan lingkungan sekitar kita tidak islami, tetapi aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Yang kucoba untuk kupertahankan adalah tetap menganggap perbuatan yang salah itu salah, tidak menjadikan itu menjadi benar walaupun mereka terbiasa melakukannya. Dan aku akan terus berusaha menyampaikan kebenaran atau nasihat berupa tulisan atau perkataan kepada orang-orang, salah satunya adalah dengan membuat tulisan ini. Semoga tulisan ini bermanfaat.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.