Menyikapi Perempuan yang Pulang Malam

Sebelumnya saya telah membahas bahwa perempuan diharapkan tidak pulang malam. Akan tetapi, bagaimana dengan perempuan yang harus mengikuti kegiatan akademik hingga malam hari sehingga baru bisa pulang ketika sudah malam? Jika upaya menghindari pulang malam sudah tak bisa dilakukan lagi, kita tetap berusaha mengondisikan agar perempuan bisa pulang dengan aman dan terhindar dari fitnah. Bagi perempuan, adab-adab yang perlu dilakukan ketika keluar rumah adalah* :

  1. Keluarnya untuk suatu keperluan yang mendesak
  2. Harus dengan izin walinya (Orang tua atau suaminya)
  3. Harus memakai hijab yang syar’i
  4. Tidak boleh memakai wangi-wangian
  5. Hendaknya dengan mahromnya atau dengan wanita yang lain dan jangan berdua-duan dengan seorang laki-laki yang asing

Perempuan yang baru pulang pada malam hari juga perlu menerapkan adab-adab di atas. Namun ada beberapa adab di atas yang sulit diterapkan oleh perempuan yang tinggal di tempat kos. Ada juga perempuan yang tidak bisa pulang bersama dengan teman perempuan lainnya karena berbeda arah pulang. Lalu bagaimana sebaiknya dia pulang?

Cara yang syar’i

Untuk kasus pulang malam, aku tidak tahu apakah menurut Islam sebaiknya perempuan hanya pulang bersama-sama dengan perempuan lainnya atau perlu ditemani oleh lelaki untuk menjaga mereka. Aku sendiri merasa tak tega membiarkan perempuan pulang malam tanpa ada lelaki yang menjaganya.

Perempuan sebaiknya ditemani oleh mahromnya, tetapi jika dia tinggal di tempat kos yang jauh dari mahromnya saranku sebaiknya bersegara untuk menikah agar nanti ada yang menemaninya terutama jika dia harus pulang malam. Namun sepertinya cara ini berat untuk dilaksanakan. Cara lain untuk kasus seorang perempuan yang baru pulang pada malam hari tanpa ada mahromnya adalah ada lelaki bersama mahromnya atau istrinya yang menjemput perempuan itu dan mengantarnya hingga ke rumah atau tempat kos. Namun lelaki bersama mahromnya yang bisa dan mau mengantarkan pulang sulit didapatkan. Lalu bagaimana yang perlu dilakukan oleh seorang perempuan yang baru bisa pulang pada malam hari dan di sana hanya ada laki-laki yang bukan mahromnya yang sama-sama baru selesai dari aktivitasnya (misalnya praktikum atau ujian) jika cara-cara di atas tidak bisa dilakukan? Kejadian ini sering dialami oleh mahasiswi.

Cara lain

Beberapa metode yang mungkin dilakukan adalah pulang sendiri, pulang bersama atau diantar oleh seorang lelaki, atau diantar oleh banyak laki-laki. Cara yang bisa dilakukan adalah jalan kaki, naik motor, atau naik mobil. Manakah yang lebih baik untuk dipilih? Dan bagaimana posisi lelaki terhadap perempuan saat mengantarkan pulang? Menurutku metode yang paling aman di antara cara-cara yang disebutkan adalah diantar oleh banyak laki-laki, minimal berdua. Jika tempat tinggalnya jauh perlu menggunakan mobil, tetapi jika mobil tidak bisa atau tidak boleh masuk perlu jalan kaki. Kita tidak bisa menggunakan motor karena kapasitas sebuah motor normalnya hanya dua orang (berarti hanya seorang lelaki dan seorang perempuan).

Jika perempuan itu tidak mendapatkan dua orang laki-laki yang bisa dan mau mengantarkan pulang, aku tidak tahu mana yang seharusnya dipilih menurut aturan yang syar’i, apakah diantar oleh seorang lelaki atau pulang sendiri. Kedua metode ini menurutku sudah melanggar aturan yang syar’i. Diantar oleh seorang lelaki bisa dianggap sebagai kholwat (berdua-duaan), dan hal ini dilarang oleh syari’at. Pulang sendiri juga sudah melanggar adab-adab perempuan saat keluar rumah yang telah kutuliskan di atas. Menurutku perempuan pada umumnya adalah makhluk lemah yang perlu dilindungi dari gangguan orang-orang jahat. Untuk alasan itu perempuan perlu dijaga oleh laki-laki jika harus pulang pada malam hari. Jika hanya ada seorang lelaki yang menjaganya, lelaki itu juga harus berhati-hati agar dirinya juga tidak tergoda untuk mengganggu perempuan itu. Jangan merasa sok tahan godaan dengan mengatakan bahwa ia tidak akan berbuat macam-macam. Wajar jika godaan itu muncul karena yang mengatur hati-hati kita bukanlah diri kita sepenuhnya. Berusahalah untuk tetap mengikuti aturan-aturanNya dan kondisikanlah diri kita sehingga sulit untuk melakukan perbuatan yang buruk jika setan berhasil menggoda diri kita. Dan berdo’alah kepada Allah agar kita Dijaga olehNya untuk tidak melakukan perbuatan buruk itu. Perempuan yang diantar juga harus berhati-hati jika diantar oleh lelaki yang bukan mahram. Munculkanlah rasa kekhawatiran bahwa dirinya bisa tergoda atau digoda oleh lelaki itu entah dengan pemaksaan atau rayuan karena sudah tabi’at laki-laki bahwa ia bisa tergoda ketika berinteraksi dengan perempuan. Perasaan semacam ini juga perlu dimunculkan jika diantar oleh banyak laki-laki. Seandainya perempuan harus pulang sendiri, berhati-hatilah terhadap orang-orang di sekitarnya.

Cara lelaki mengantar perempuan

Bagaimana cara yang paling baik jika hanya ada seorang lelaki yang bisa mengantarnya? Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya bisa menyebutkan permasalahan yang dihadapinya. Jika diantar naik mobil, mereka akan sulit dilihat oleh orang yang berada di luar mobil jika kaca mobilnya ditutup. Keadaan ini membahayakan bagi mereka saat mereka tergoda. Inilah bahaya yang dikhawatirkan dari kholwat. Ketika tangan sudah mulai jahil, baik pihak lelaki maupun perempuan, tak ada orang lain yang tahu. Upaya pencegahannya adalah dengan menjauhkan posisi lelaki dengan perempuan sehingga mereka tidak mudah untuk saling bersentuhan, baik karena godaan maupun karena ketidaksengajaan. Jika dibonceng oleh seorang lelaki naik motor, posisi mereka tidak bisa saling berjauhan, tetapi mereka bisa dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Maka mereka lebih memiliki rasa malu, tetapi hal ini malah memunculkan citra negatif dari orang-orang. Perlu ditekankan bahwa walaupun dibonceng, perempuan tidak boleh memegang tubuh lelaki meski untuk alasan keselamatan agar tidak jatuh (misalnya memegang perut, pinggang, atau bahu). Ada cara lain untuk menjaga kestabilan saat naik motor, misalnya memegang bagian tertentu dari motor. Walaupun mereka tidak bisa saling berjauhan, di antara mereka harus tetap ada jarak, tidak boleh menempel. Pemisah ini bisa juga berupa tas. Dan mungkin yang dibonceng bisa memegang tas ini untuk keselamatan. Perubahan kecepatan motor juga perlu diatur agar tidak terjadi tumbukan di antara mereka. Baik lelaki maupun perempuan juga harus mengondisikan dirinya saat terjadi perubahan kecepatan (misalnya saat pengereman) untuk menghindari tumbukan. Berhati-hatilah saat melewati jalan yang sepi. Setan akan terus menggoda mereka terutama di tempat yang sepi. Semakin lama godaan itu bisa semakin besar sehingga mereka harus lebih waspada di tempat itu. Tak ada orang lain yang menegur mereka jika mereka sudah tergoda. Jika mereka jalan kaki berdua, mereka akan lebih lama melewati jalan yang sepi dibandingkan naik mobil atau motor. Oleh sebab itu hindari interaksi di antara mereka dan jauhkanlah posisi antara lelaki dan perempuan, atau cari jalan lain yang lebih ramai.

Posisi laki-laki terhadap perempuan

Apakah sebaiknya laki-laki berada di depan, di belakang, atau di samping perempuan? Berdasarkan QS. An-Nur: 30,31 laki-laki tidak boleh memandang perempuan dan juga sebaliknya. Namun bahaya yang ditimbulkan laki-laki saat melihat perempuan lebih besar. Jika laki-laki sudah tergoda untuk melakukan perbuatan yang buruk, keselamatan perempuan terancam, tetapi perempuan pada umumnya tidak bisa mengancam keselamatan laki-laki. Oleh sebab itu, laki-laki diposisikan di depan agar sulit melihat perempuan. Secara syar’i laki-laki berada di depan perempuan ketika laki-laki dan perempuan melakukan perjalanan bersama. Akan tetapi, jika laki-laki tidak bisa melihat perempuan, bagaimana cara mereka menjaga perempuan itu? Karena alasan itu ada orang yang menyarankan bahwa posisi laki-laki berada di belakang perempuan, tetapi perempuan itu berada jauh di depan laki-laki sehingga laki-laki itu lebih sulit untuk melakukan tindakan jahat kecuali dengan mengejar perempuan itu. Selain itu laki-laki itu juga bisa memantau keadaan perempuan yang jauh berada di depannya, tetapi cara ini malah menjadikan laki-laki bisa menikmati untuk memandang perempuan itu. Jadi, mana yang harus dipilih? Ada posisi lain yaitu laki-laki berada di samping perempuan tetapi tetap menjaga jarak hingga mereka tidak bisa saling bersentuhan. Jika jalan cukup lebar tetapi sepi, laki-laki bisa berada di sisi kanan jalan sedangkan perempuan bisa berada di sisi kiri jalan sehingga perempuan bisa tetap terpantau walaupun pandangannya ke arah depan.

Kesimpulan

Jika ada perempuan yang baru bisa pulang pada malam hari hendaklah dia ditemani mahromnya. Jika tidak ada mahrom yang bisa menemaninya, sebaiknya dia diantar oleh laki-laki yang bersama mahromnya atau istrinya. Jika hal ini masih tidak bisa dilakukan, setidaknya ada dua orang laki-laki yang mengantarkan pulang. Perempuan yang diantar oleh laki-laki yang bukan mahrom harus menjaga diri mereka masing-masing dengan memperhatikan batasan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Pilihlah cara yang paling aman dan terhindar dari fitnah dan berusahalah menghindari fitnah yang bisa muncul ketika diantarkan pulang.

7 Respon untuk Menyikapi Perempuan yang Pulang Malam

  1. Prib mengatakan:

    a’pman sajalah yg menemani dgn alternatif pilihan pertama

    jgn lupa ngundang ya

    *kabur*

  2. greengrinn mengatakan:

    wah,. berat~ kalo saya mah, pulang sendiri dan naek ojek, menurut tulisan ini tidak syar’i ya, tapi gimana, ya. akses jalan gak mungkin banget kalo jalan kaki :lol:
    hhe,.

  3. Firman Ahmad mengatakan:

    Pulang berdua dengan seorang lelaki memang tidak syar’i, tetapi kalau pulang sendiri sebenarnya saya juga kurang begitu tahu. Ada yang mengatakan bahwa perempuan pulang sendiri dibolehkan asalkan keamanannya terjamin. Walaupun begitu sebaiknya kamu mengajak teman-temanmu untuk pulang bersama agar lebih aman.
    Kita memang sulit untuk menerapkan aturan yang syar’i. Kadang kita tidak bisa menerapkannya, maka lakukanlah sebisanya tetapi yang tidak banyak melanggar aturan syar’i.
    Kalau mau naik ojek, aturannya adalah tidak berduaan dengan seorang lelaki yang bukan mahrom. Maka carilah tukang ojek perempuan kalau ada, atau ajaklah teman-temanmu untuk pulang bersama dengan beberapa ojek.
    Intinya, berusahalah untuk tetap menerapkan aturan yang syar’i. Allah akan menilai usaha kita. Jika kita sering melanggar aturan itu karena terpaksa, jangan sampai kita merasa bahwa perbuatan itu tidak salah karena sudah terbiasa.

    Terima kasih sudah memberikan komentar.

  4. greengrinn mengatakan:

    kalo kuliah sih kayaknya jarang ada deh temen yang rumahnya deketan :lol: bener banget itu,sayangnya lagi, ternyata tidak ada temen yang rumahnya deket dengan saya.

  5. Firman Ahmad mengatakan:

    Dulu ada teman saya yang kalau mau pulang minta diantar naik mobil, tetapi dia tidak mau hanya berdua di mobil itu. Memang jadi memberatkan tetapi itu untuk menjaga keselamatannya. Saya sudah mengatakan bahwa perempuan itu perlu dijaga, maka tidak usah merasa tidak enak untuk diantar kalau memang terpaksa pulang malam.
    Kalau harus diantar naik motor apakah oleh teman atau tukang ojek, saya belum bisa memberi saran, karena bergantung pada kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti tetaplah menjaga adab-adabnya. Sebenarnya saya berencana melanjutkan tulisan di atas tetapi belum sempat.

    Prib, saya masih belum mampu. Kalau mau silakan duluan.

  6. [...] melihat perempuan pulang malam Pada tulisan sebelumnya saya sudah menjelaskan bagaimana menyikapi perempuan yang pulang malam. Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang sikap saya dalam menghadapi hal itu. Telah [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.